Thursday, January 13, 2011

Sangatta Tarakan, Basis Tempur TNI Kawal Ambalat

Sangatta, sebuah nama yang semakin populer dua tahun terakhir, terletak di Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur sejak tahun 2008 selalu dibombardir oleh seluruh matra TNI untuk melepaskan hasrat tempur yang menggebu. Tercatat sudah lebih dari 9 kali sejak 2008 kawasan berbukit dan berhutan lebat ini dihujani oleh peluru tajam pasukan TNI, apakah itu dari Sukhoi, F16, F5E, Hawk, serbuan pasukan Marinir, PPRC Kostrad menggemuruhkan semangat bertempur dari pengawal republik sebagai bagian dari kesiapan tempur untuk menghadapi negara pengganggu teritori RI.

Saat ini Sangatta telah dijadikan Mako Latgab secara permanen, artinya setiap saat kawasan ini menjadi area latihan tempur dan sekaligus yudha siaga karena didepannya ada sebuah perairan milik NKRI yang diklaim milik jiran arogan. Mako Latgab ini setiap saat bisa menjadi pangkalan militer berskala besar dan memang sudah disiapkan untuk itu, mampu menampung 100.000 pasukan TNI dengan aneka persenjataannya. Agak ke utara sedikit, tepatnya di Berau sedang disiapkan pangkalan heli tempur berkekuatan 1 skuadron. Ini juga bagian dari persiapan menghadapi kondisi terburuk.

Kalimantan sudah dibagi menjadi dua Kodam. Untuk Kodam Mulawarman membawahi Kaltim dan Kalsel berkedudukan di Balikpapan, sedangkan Kodam Tanjungpura membawahi Kalbar dan Kalteng berkedudukan di Pontianak. Kalbar dan Kaltim sedang dipersiapkan menjadi basis militer berskala besar. Batalyon-batalyon tempur dibangun antara lain di Malinau, Putussibau, Bengkayang, Nunukan, Sambas. Sementara batalyon yang sudah ada diperkuat dengan persenjataan terbaru dan penambahan personil. Kalbar setidaknya akan mendapatkan 100 unit Main Battle Tank dan akan dialokasikan di Bengkayang. Belum lagi ratusan unit rudal berjarak jangkau 40 km sampai 200 km akan dipasang di lokasi strategis di sepanjang border Kalimantan.

Tarakan, secara defacto sudah menjadi basis militer. Pasukan organik di pulau minyak ini tercatat ada batalyon raja alam, batalyon brimob, pangkalan TNI AL, pangkalan TNI AU, pangkalan radar, Marinir dan Paskhas. TNI AL sedang mempersiapkan pembangunan pangkalan di pantai Amal, selama ini sejumlah KRI masih numpang di pelabuhan Melundung. TNI AU sudah membangun pangkalan TNI AU di Juata, sembari menunggu kedatangan pesawat tempur Super Tucano. Pesawat Super Tucano akan ditempatkan sebanyak 8 unit dan akan dilapis dengan kekuatan 6 unit f16 secara permanen.

Jumlah KRI yang mengawasi Ambalat berkisar 7-8 unit dan semuanya berpangkalan di Tarakan. Sinergi Tarakan dan Sangatta sangat menguntungkan dari sisi pergerakan militer dan logistik karena Tarakan juga berfungsi sebagai tirai pelindung udara dan laut untuk pangkalan militer Sangatta.

TNI tidak main-main dengan Ambalat. Jalur lurus Balikpapan, Samarinda, Bontang dan Sangatta merupakan jalur vital pergerakan TN AD. Masuk Ke Berau, Tanjung Selor dan Malinau sudah tersedia ribuan pasukan TNI AD dari komponen organik. Sementara Tarakan menjadi pangkalan garis depan mirip dengan suasana Dwikora jaman dulu dengan bertumpuknya pasukan TNI dari seluru matra. Nunukan dan Sebatik juga sudah disiapkan pasukan marinir. Semua ini masih juga dilapis dengan ribuan pasukan TNI yang ada di Gorontalo dan Palu. Seperti kita ketahui Gorontalo adalah salah satu basis pasukan Kostrad divisi 3 yang sudah ready for combat.

Kita tidak ingin perang, tapi kita juga harus siap untuk itu jika teritori NKRI dilecehkan oleh jiran yang angkuh. Sangatta dan Tarakan sudah mempersiapkan semuanya. Kaltim yudha siaga, Kalbar juga demikian. TNI akan selalu mengawal kedaulatan NKRI dengan semboyan: ini dadaku mana dadamu, anda jual kami beli.

***
Jagvane,-

Kabar Gembira Itu Bernama Alutsista

Satuan tempur Penerbad awal tahun  2011 ini akan kedatangan 6 Heli bongsor sangar dari jenis Mi17 buatan Rusia, itu kata berita di minggu kedua Desember 2010.  Padahal baru saja satuan ini menerima 3 Heli Tempur dari jenis Mi35 buatan Rusia sebulan lalu. Penerbad memang sedang mengembangkan aumannya dengan menambah kekuatan menjadi lima skuadron tempur.  Satuan udara TNI AD ini sekarang sudah memliki 5 Heli Mi35, 6 Heli Mi17, dan lebih 30an Heli jenis lain yang tersebar di Pusat Skuadron  Ahmad Yani Semarang dan Pondok Cabe.  Penerbad masih akan memperkuat taringnya dengan menambah minimal 5 Heli Mi35 dan 24 Heli jenis Bell.  Itu semua akan terealisir dalam waktu dekat.  Sebaran skuadron bertambah dengan mengalokasikan 1 skuadron heli tempur di Berau Kaltim dan 1 skuadron lagi di Baturaja Sumsel.

TNI AD telah diperkuat dengan 154 Panser Anoa buatan Pindad, memastikan akan diperkuat dengan kendaraan lapis baja IFV (Infantry Fighting Vehicle) dari Korea Selatan, jumlahnya untuk tahap pertama 22 biji, kemudian juga sedang menunggu kehadiran 50 Panser Canon hasil kerjasama Pindad dan Korsel.  Kostrad sedang membangun divisi baru di Sulawesi, Maluku dan Papua dengan kekuatan 15.000 prajurit.  Saat ini Kostrad memiliki 2 divisi dengan kekuatan 35.000 pasukan. Kalimantan telah dimekarkan menjadi 2 Kodam yang berarti ada penambahan batalyon tempur.  Setidaknya ada 5 batalyon baru yang sudah jadi untuk memperkuat batalyon eksisting di Kalimantan. Batalyon-batalyon tempur TNI AD tak lama lagi akan diperkuat satuan rudal berjarak tembak 150-200 km hasil karya anak bangsa yang telah dilitbangkan selama 5 tahun terakhir.  Kalau kita melihat tampilan kesatrian TNI AD apakah itu berlabel Kostrad, Kopassus, Kodam saat ini, semuanya memberikan warna cerah dan gagah, cermin dari kesiapan operasional baik tempur maupun kemanusiaan.

Marinir TNI AL baru saja mendapat mainan baru yang ‘menggemaskan’ dengan kedatangan 17 tank tempur amphibi paling gress dan mengentarkan juga dari Rusia.  Kedatangan BMP-3F ini menambah kekuatan tempur Marinir setelah mendapat hibah 10 LVT Amphibi dari Korea Selatan beberapa bulan lalu.  Sangat dimungkinkan BMP-3F ini akan ditambah lagi sampai mencapai 100 unit dalam 3 tahun ke depan.

TNI AL sedang berbenah total menuju kekuatan tempur  dengan 274 KRI.  Saat ini sudah tersedia ready for use sebanyak 154 KRI dari berbagai jenis.  PAL kebagian order  Light Fregat PKR kerjasama dengan Schelde Belanda, proyeksi PKR yang dibuat akan mencapai 10 unit.  Kapal Cepat Rudal (KCR) akan dijadikan salah satu striking force dengan kekuatan mencapai 100 KRI.  Saat ini sudah ada sebanyak 35 unit sebagian sudah dipasangi rudal C802 atau C705.  Galangan kapal dalam negeri baik Fasharkan TNI AL maupun swasta  mendapat pekerjaan untuk membuat 27 Kapal Cepat Rudal termasuk dari jenis Trimaran.  PT PAL mendapat order pembuatan 11 Landing Ship Tank, integrasi sistem tempur 30an KRI termasuk pemasangan rudal Yakhont, C802 dan C705.  PT PAL segera merampungkan 1 LPD pesanan terakhir dari paket 4 LPD yaitu KRI Banda Aceh.

Untuk pengadaan kapal selam, sudah ada persetujuan anggaran dari DPR dengan mendatangkan 4 kapal selam.  Proyek alutsista strategis ini sejatinya yang paling ditunggu oleh korps TNI AL  Diharapkan bulan Pebruari 2011 sudah ada kepastian dari negara mana kapal selam itu didatangkan.  Rusia diprediksi akan menjadi pemasok 4 kapal selam itu bisa dari jenis Kilo atau Amur.  2 Kilo sebenarnya sudah masuk dalam paket Kredit Ekspor Rusia sebesar US$ 1,1 Milyar. Petinggi TNI AL pernah mengatakan bahwa TNI AL memerlukan kapal selam dari jenis herder, dan itu artinya hanya kapal selam Kilo atau Amur yang memenuhi syarat dibandingkan buatan Korsel. .Saat ini TNI AL punya 2 kapal selam buatan Jerman, salah satunya yaitu KRI Nanggala masih dioverhaul di Korsel dan akan selesai Semester I tahun 2011.

Indo Defence Nopember lalu juga menghasilkan cahaya kinclong bagi TNI AU.  Indonesia memesan sejumlah rudal berbagai jenis paling mematikan untuk arsenal Sukhoi.  Kemudian sign pembelian 8 Super Tucano dari Brazil sebagai order tahap pertama dari rencana beli 16 Super Tucano. Kementerian Pertahanan juga sedang mempersiapkan pembelian tahap ketiga untuk 6 Sukhoi lengkap dengan persenjataannya sehingga Sukhoi dari jenis SU27/SU30 akan menjadi 1 skuadron lengkap (16 unit).

Masih untuk pengawal kedirgantaraan, TNI AU sedang mengkaji hibah 24 pesawat tempur F16 dari AS bersama opsi yang lain yaitu beli baru sebanyak 6 unit F16 blok52, serta mengupgrade 10 F16 eksisting menjadi F16 blok52.  Semua sedang dalam proses namun bahasa tubuh TNI mengisyaratkan TNI AU menginginkan hibah 24 F16 itu diambil, syukur-syukur beli yang 6 itu juga parallel sehingga kita akan memiliki 40 pesawat tempur F16.

TNI AU juga sedang memproses pengadaan pesawat latih mengganti Hawk Mk53.  Calon kuatnya adalan Yak 130 dari Rusia dan T-50 dari Korea Selatan. Diharapkan triwulan pertama 2011 sudah ada keputusan untuk pesan sebanyak 16 unit.  Kita memprediksi Yak 130 akan menjadi pilihan karena pesawat made in Rusia lebih bernilai garansi  dibanding dari Korea selatan.

Dalam Renstra 2010-2014 TNI AU juga mempersiapkan pengganti pesawat tempur F5E.  Tiga kontestan sedang bertarung yaitu SU35 Rusia, Gripen Swedia dan JF17 China-Pakistan.  Sukhoi SU 35 boleh jadi menjadi pilihan tepat jika kita menganalisis keinginan Menhan Purnomo yang arahnya adalah keluarga Sukhoi akan menjadi tulang punggung kekuatan TNI AU.

TNI AU juga sedang mempersiapkan kedatangan pesawat UAV semester I -2011 sebanyak 2 skuadron baik dari jenis fixed wing maupun rotary wing.  Pekanbaru dan Pontianak yang juga menjadi markas skuadron Hawk100/200 (36 unit) akan menjadi rumah bagi skuadron UAV namun karena sifatnya sangat mobile dan ringan pesawat jenis ini bisa dipindahkan ke sejumlah trouble spot di tanah air. Sementara itu skuadron angkut berat TNI AU tengah mengupayakan penambahan minimal 10 Hercules Second dari berbagai jenis dan diharapkan akhir tahun depan sudah datang sehingga kekuatan  Skuadron ini mencapai  35 unit.

Seabreg kabar gembira yang bernama alutsista itu dipersembahkan untuk TNI agar kedaulatan NKRI bisa ditegakkan dengan gagah perkasa bukan gagah gemulai. Aura panen raya alutsista sudah mulai terasa saat ini dengan kedatangan berbagai jenis arsenal canggih.  Panen raya itu akan semakin terasa pada tahun-tahun mendatang dengan kehadiran  sejumlah besar arsenal yang sudah dipesan baik dari industri hankam dalam negeri maupun dari negara lain.  Bisa kita sebut disini : Untuk TNI AU 16 Super Tucano, 24 F16, 16 Yak130, 6 Sukhoi, 10 Hercules, 8 EC Cougar, 3 Super Puma, 6 C17 Spartan, 400-450 Rudal Hanud Titik, 40-50 Rudal Hanud Area, 3 pesawat intai strategis.  Untuk TNI AL  4 kapal selam, 3 PKR Light Fregat, 27 KCR (Kapal Cepat Rudal), 11 LST, 12 Heli anti kapal selam, 8 CN235 MPA,  rudal Yakhont, C802 dan C705.  Sementara TNI AD mendapat 100 kendaraan lapis baja roda rantai IFV dari Korsel dan Jerman, 50 Panser Canon, 200-250 rudal anti tank, 50-55 battery arhanud titik, 5 Heli tempur MI35, 25 Heli tempur Bell, 100 Howitzer artileri, 200 roket NDL, 800 roket Rhan dan 150 rudal Lapan Pindad.

Itu semua akan tercapai dalam renstra TNI 2010-2014.  Duitnya berjumlah 150 trilyun rupiah berasal dari APBN, Kredit Ekspor dan Pinjaman Bank Dalam Negeri.  Inilah sebuah awal dari pembangunan kekuatan TNI untuk mecapai MEF (Minimum Essential Force). Pembangunan kekuatan ini akan terus berlanjut sampai tahun 2024 dimana saat itu kita sudah punya alutsista strategis yaitu 60 pesawat tempur KFX, 120 Sukhoi, 12-14  kapal selam, 340 KRI, Ribuan rudal surface to surface jarak tembak 300-500 km, ribuan rudal surface to air.  Tidak usah menunggu tahun 2024 karena tahun 2014 kita sudah mampu membusungkan dada sembari mengatakan : Ini dadaku mana dadamu.  Dan tiba-tiba saja beberapa jiran yang ada dlingkungan RT ASEAN bilang pada sebuah arisan RT: Sudah pantaslah abang Indonesia pimpin kami sebagai Ketua RT tak pakai periode.  Kami juga tak nak klaim-klaim lagi.  Suka-suka abanglah, kata Pakcik dari tanah seberang sambil membungkukkan badan.

*******
Jagvane

Menyemai Alutsista Menanti Panen Raya

Apa yang menarik selama tiga bulan terakhir ini jika kita berbicara tentang alutsista TNI. Jawabnya adalah semakin terang benderangnya jenis kelamin alutsista yang dipakaikan pada uniform Tentara Nasional Indonesia untuk menuju keperkasaan yang dipersyaratkan sebagai pengawal NKRI.

Dengan kerja keras dan kerja cerdas Kemhan dan TNI selama setahun ini - tentu saja dengan payung regulasi Undang-Undang – persemaian bibit alutsista mulai bertunas dan memberikan spirit bagi pengawal republik untuk melaksanakan tugasnya dengan percaya diri karena hasilnya adalah terciptanya ruang harga diri dan martabat bangsa untuk tidak diremehkan lagi oleh jiran pongah yang merasa lebih kuat dan hebat.

Ya, TNI dan Kemhan saat ini sedang menyemai  dan menabur ‘sperma’ alutsista di segala tempat untuk sebuah tekad yang sudah dikumandangkan Menhan Purnomo, menghasilkan  sosok dan postur TNI  yang gagah perkasa dengan persenjataan lengkap dan modern.  Beberapa contoh persemaian alutsista yang sudah diteken dan atau dicanangkan antara lain:

·         Sign Kerjasama PAL dengan Schelde Belanda untuk membuat light fregat PKR sebanyak 10 unit
·         Pengadaan 27 unit Kapal Cepat Rudal dengan galangan kapal dalam negeri
·         Pembelian rudal C802 dari China untuk 27 unit KCR dan 15 Korvet Parchim
·         Pengadaan  8 unit Kapal Cepat Trimaran dilengkapi rudal C705
·         Pengadaan 11 Kapal Landing Ship Tank di PT PAL
·         Tambahan 6 unit Sukhoi untuk melengkapi menjadi 1 skuadron (16 unit)
·         Sign  kontrak untuk persenjataan / rudal  Sukhoi
·         Up grade kemampuan tempur 4 Sukhoi eksisting batch 1
·         Sign jual beli 16 unit pesawat tempur Super Tucano dari Brazil
·         Pengadaan 16 unit  pesawat tempur latih Yak130 dari Rusia
·         Hibah seperempat harga 24 unit pesawat tempur F16 second  dari AS
·         Pembelian 6 pesawat tempur F16 gress dari AS
·         Upgrade 10 pesawat tempur F16 eksisting
·         Beli 2 Boeing dari Garuda untuk pesawat intai strategis
·         Produksi  2000 rudal Pindad-Lapan  jarak jangkau 150 km
·         Pasang 5 radar Thales di Saumlaki, Timika, Merauke, Singkawang, Morotai
·         Pengadaan 2 kapal selam dari Rusia
·         Produksi bersama 4 kapal selam antara PAL dengan Jerman atau Kosel
·         Pembelian tahap I  22 tank tempur modern dari Korea Selatan, opsi 100 unit
·         Kerjasama produksi Pindad-Korsel  membuat panser Canon sebanyak 50 unit
·         Pengadaan 100  rudal Hanud jarak sedang pengganti S75
·         Pengadaan 16 unit pesawat tempur SU35 BM pengganti F5E
·         Pengadaan 12 unit pesawat Hercules second
·         Penyelesaian Up grade 9 unit pesawat Hercules
·         Pengadaan 6 unit pesawat angkut sedang C17J Spartan dari Italia
·         Pengadaan 12 unit Helikopter EC725Cougar dari Perancis
·         Penyelesaian kontrak 3 unit Helikopter Super Puma dengan PT DI
·         Sign Kontrak pembuatan 28 Heli tempur Bell untuk Penerbad
·         Pengadaan 12 unit UAV Fixed Wing
·         Pengadaan 12 unit UAV Rotary Wing
·         Pembelian lanjutan  1000 rudal panggul QW3 untuk Marinir dan Paskhas
·         Produksi lanjutan Panser angkut personil (APC) Pindad

Dengan anggaran belanja khusus alutsista sebesar 150 trilyun rupiah yang sudah disetujui berama antara Pemerintah dan DPR untuk masa 5 tahun ke depan sangat diniscayakan akan menghasilkan panen raya alutsista mulai tahun 2011 dan puncaknya tahun 2014.  Sementara pada bulan Nopember ini kita sedang menunggu kedatangan 17 tank amphibi BMP-3F dari Rusia dan berencana akan menambah lagi inventory BMP-3F sampai mencapai 100 unit.

Nah, agar proses menuju panen raya alutsista ini dapat berjalan sesuai harapan kita semua, perlu dilakukan penyemprotan terhadap hama-hama yang biasanya selalu ‘menemani’ jalannya proses tumbuh dan berkembangnya.  Hama tanaman itu yang paling berat adalah tikus mark up dan wereng makelar yang selalu berupaya agar pengambil keputusan mengikuti kehendak si hama tadi. 

Meskipun begitu kita meyakini (tak baik berburuk sangka) bahwa segala hal yang berkaitan menuju panen raya tadi akan berjalan sesuai tracknya sehingga pada tahun 2014 kekuatan minimum essential force dapat kita peluk dengan bangga sembari mengatakan kepda anak kandung kita TNI : Kamu sudah besar nak, kamu sekarang sudah perkasa, jalankan tugasmu dengan  lugas.  Jagalah ibu pertiwi dengan bangga karena itu adalah kewajibanmu.

Kemudian si anak kandung tadi berbisik pada ibu pertiwi sebelum pergi bertugas: Jangan lupa dengan kesejahteraan ananda ya Bu.  Bukankah alutsista ini dibeli dengan harga mahal, dan itu mestinya juga setara dengan kesejahteraan ananda.  Bukankah begitu Ibu pertiwi ?
*****
Jagvane

Armada Barat RI, Menuju Kekuatan Herder

Konvoi Armada KRI dalam sebuah Latihan
Perjuangan TNI AL untuk mengembangkan armada tempurnya menjadi 3 armada yaitu armada barat, tengah dan timur sudah diambang fajar dan diperkirakan tahun 2012 sel tiga armada itu sudah terbentuk dengan jelas, berubah dari metamorfose sebelumnya  yang dua armada, timur dan barat.

Perubahan ini tentu memerlukan pertambahan jumlah KRI yang dioperasionalkan termasuk penambahan jumlah pangkalan utama TNI AL dan sebaran pasukan Marinir.  Dengan  anggaran 150 trilyun rupiah untuk modernisasi alutsista TNI dalam renstra tahun 2011 sampai dengan tahun 2014, pertambahan jumlah KRI merupakan sebuah keniscayaan yang patut didukung karena wajib hukumnya.

Khusus armada barat, areal gugus keamanan dan gugus tempur lautnya meliputi perairan Natuna, Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Karimata, Selat Sunda dan perairan Barat Sumatera.  Pangkalan utama TNI AL eksisting ada di Tanjung Pinang sebagai pangkalan markas dan sebaran pangkalan utama lainnya ada di Dumai, Belawan, Lhok Seumawe, Sabang, Padang, Natuna, Mempawah, dan Teluk Lampung.

Untuk mendukung kekuatan gugus kemanan dan gugus tempur laut yang memenuhi kriteria sebagai Herder pengawal halaman perairan NKRI, Armada barat TNI AL selayaknya diperkuat dengan alutsista utama  minimal dengan 80 KRI yang terdiri dari 10 Fregat, 14 Korvet, 20 Kapal Cepat Rudal, 22 Kapal Patroli, 2 Kapal Tanker dan 12 Kapal Logistik / Angkut Pasukan.  Untuk Lantamal Natuna ditempatkan secara permanen 2 Fregat, 4 Korvet, 4 Kapal Cepat Rudal dan 5 Kapal Patroli. Kehadiran secara permanen karena perairan Natuna adalah garis depan kedaulatan negara yang berhadapan langsung dengan banyak negara.  Lantamal Padang diisi dengan 1 Fregat, 2 Korvet dan 3 Kapal Cepat Rudal untuk mengawal perairan barat Sumatera. Sabang mendapat jatah 2 Fregat, 3 Korvet dan 3 Kapal Cepat Rudal untuk mengawal  perairan utara Sumatera dan pintu masuk selat Malaka.  Lantamal Belawan kebagian 4 Korvet dan 4 Kapal Cepat Rudal dan 5 Kapal Patroli.  Teluk Lampung yang mengawal selat Sunda mendapat jatah 2 Fregat, 2 Korvet dan 3 Kapal Cepat Rudal.  Mempawah kebagian 4 kapal Patroli dan 3 Kapal Cepat Rudal, Lhok Seumawe mendapat alutsista 3 Kapal Cepat Rudal dan 3 Kapal Patroli. Dumai mendapat 4  kapal patroli dan 3 kapal cepat rudal.  Sisanya ditempatkan di pangkalan markas Tanjung Pinang.

Sebaran kekuatan KRI di armada barat memberikan kekuatan detterens terutama dilintasan ALKI I dimana banyak kapal-kapal niaga melintas.  Kehadiran unsur KRI di selat Malaka ingin menegaskan kepada kekuatan armada tertentu bahwa RI sanggup mengawasi perairan padat ini dengan kontrol penuh termasuk juga di selat Singapura.  Itu sebabnya di wilayah selat ini paling banyak ditempatkan kapal cepat rudal dan kapal patroli untuk memastikan tingkat keamanan terhadap perompak, penyelundupan dan sekaligus menjaga teritori perairan NKRI.

Perairan Natuna merupakan  halaman ranum NKRI yang banyak “diganggu” oleh kapal-kapal asing, baik berbaju loreng atau berbaju nelayan.  Kehadiran penuh satuan armada barat di kawasan ini setidaknya memberikan pesan bahwa : anda diperbolehkan melintas tetapi jangan mencolek isi lautnya apalagi mengaku-aku sebagai milik nenek moyangnya.  Pesan ini harus dikumandangkan terus karena masa depan konflik ada di perairan ini.  Jika dari sekarang tidak dipersiapkan, bisa jadi akan terjadi kasus ambalat jilid II. Itu sebabnya armada barat sedang dipersiapkan menuju kekuatan herder agar anjing tetangga tidak sembarangan masuk.  Bukankah begitu Bapak Panglima TNI ?

****
Jagvane

Militer Indonesia Belanja Alutsista, Tetangga Sebelah Panik


Skuadron 31 Penerbad dengan Heli Tempur Mi35 buatan Rusia
Adalah Menhan Purnomo secara lantang menyatakan pada event penyerahan 3 pesawat tempur Sukhoi SU-27 di Makassar tanggal 27 September 2010 lalu: Untuk membangun pertahanan negara membutuhkan anggaran yang cukup besar, namun besarnya biaya itu tidak semahal dengan kehormatan dan harga diri bangsa.  Negara yang besar harus didukung dengan pertahanan yang kuat agar bangsa ini tidak dirongrong, baik dari dalam maupun dari luar. Untuk membangun kekuatan udara NKRI, Indonesia akan melengkapi skuadron  tempurnya dengan 10 skuadron dengan kekuatan 180 pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia untuk 10 tahun kedepan.

Statemen ini seperti petir di siang bolong  yang  membuat petinggi militer negara tetangga terutama Malaysia, Singapura dan Australia menjadi gerah dan gelisah.  Selama pekan-pekan ini semua situs militer dan forum militer di dunia maya berdiskusi hangat membahas pembangunan kekuatan militer Indonesia secara besar-besaran. Kalimat utamanya adalah kaget, ada apa gerangan, mengapa tiba-tiba, mau dibawa kemana hubungan kita (kata Armada Band), lalu mereka  mulai berhitung ulang dengan inventory arsenalnya.

Geliat perkuatan militer Indonesia secara terpadu mulai terlihat ketika kasus Ambalat pada tahun 2005 menghina harga diri bangsa oleh sebuah negara yang mengaku serumpun tapi arogan, Malaysia.  Sesungguhnya itulah titik awal kebangkitan militer Indonesia bersamaan dengan tekad TNI menjadi tentara profesional pengawal NKRI dan tidak lagi terjun dalam dunia politik dalam negeri yang belum dewasa dalam berdemokrasi sampai saat ini.

Belakangan pembangunan kekuatan militer China, India dan Australia menjadi sebab utama mengapa negara kepulauan ini harus memperkuat tentaranya dengan arsenal modern. Menhan Purnomo mengatakan belanja alutsista Indonesia selama lima tahun ke depan berjumlah US$ 16,7 milyar atau setara dengan Rp 150 trilyun, sebuah angka yang fantastik yang mampu membangunkan rasa percaya diri bagi seluruh anak bangsa yang cinta NKRI.  Pemerintah oke, DPR  juga, apalagi kalau rakyat ditanya dijamin pasti setuju banget.  Soalnya selama satu dekade ini kalau bicara alutsista kesan dan pesannya mirip lagu nelongso, minim anggaran, terbentur anggaran, prioritas ekonomi, harus banyak puasa aparat TNI sambil mengelus dada. Sabar ya nduk, kata bapak kandungnya TNI, ya rakyat, ya pemerintah.   Nah sekarang TNI sudah berbuka puasa dan menunya sangat beragam, ada PKR, ada Sukhoi, ada Kapal Selam, ada Rudal, ada Panser, bermacam-macam dah.

Apa yang bisa dibelanjakan dengan duit 150 trilyun rupiah itu dalam lima tahun ke depan.  Pasti banyak dong dan plaza atau mall arsenal berbagai negara pada sibuk menjajakan diri untuk kerjasama, kerja bareng dan kerja repot menghabiskan dana segar dan banyak itu.  Namanya juga gula, pasti banyak semut berdatangan dengan wajah manis untuk kerja bareng memproduksi alutsista di tanah air atau menawarkan produknya yang terbaru.

Kalau kita berandai-andai, setidaknya inilah arsenal yang segera mengisi  depot-depot militer Indonesia  sampai tahun 2015:

Alutsista Utama  TNI AU :

  • 4 Skuadron (64 unit) Sukhoi
  • 2 Skuadron (32 unit) F16
  • 2 Skuadron (36 unit) Hawk100/200
  • 1 Skuadron (12 unit) F5E
  • 1 Skuadron (16 unit) Super Tucano
  • 1 Skuadron (16 unit) Yak 130
  • 2 Skuadron ( 36 unit ) UAV
  • 4 Skuadron (64)Hercules
  • 7 Batteray Hanud Area
Alutsista Utama Angkatan Laut :

  • KRI  PKR Fregat  32 unit
  • KRI Korvet  56 unit
  • KRI Kapal Cepat Rudal 82 unit
  • KRI Kapal Patroli  Cepat  87 unit
  • KRI Kapal Selam 6 unit
  • KRI logistik dan angkut pasukan  LPD, LST 48 unit
Kekuatan armada angkatan laut akan ditambah menjadi 3 armada yaitu Armada Barat berpusat di Tanjungpinang, Natuna dan Belawan, Armada Tengah berpusat di Surabaya, Makassar dan  Tarakan,  Armada Timut berpusat di Ambon Merauke dan Kupang.  Kekuatan Marinir diproyeksi akan mencapai 60 ribu pasukan dan disebar diberbagai pangkalan angkatan laut.  Kekuatan persenjataan marinir meliputi 350 Tank BMP 3F terbaru, 175 Tank amphibi eksisting, 320 panser amphibi eksisting, 800 rudal QW3, 40 RM Grad, 75 Howitzer.

Alutsista Utama Angkatan Darat :

  • Pasukan Kostrad  3 divisi
  • Pasukan  Pemukul Kodam  150 Batalyon
  • Main Battle Tank  200 unit ditempatkan di Kalimantan dan NTT.
  • Panser Pindad  APC 540 unit  untuk batalyon infantri mekanis
  • Panser Canon 320 unit
  • Meriam dan Howitzer artileri  890 unit
  • Roket NDL  720 unit
  • Tank dan Panser eksisting berjumlah 750 unit.
  • 20 Heli tempur Mi35
  • 26 Heli angkut Mi17
  • 95 Heli tempur jenis lain
  • 1300 Rudal anti tank
  • 60 Hanud titik dengan rudal terbaru
  • 700 Rudal strategis Pindad-Lapan
Angkatan Udara dan Angkatan Laut adalah yang terbesar menyerap alokasi anggaran alutsista mengingat  banyaknya alutsista yang dibangun dikembangkan dan dibeli dengan teknologi terkini.  Pembuatan 10 PKR light Fregat yang sedang dibangun PT PAL setidaknya menghabiskan dana  US $ 2,5 milyar.  Pembuatan 4 kapal selam ditaksir menghabiskan dana US $2 milyar.  Tambahan skuadron tempur Sukhoi dan F16 berikut arsenalnya diprediksi menyerap anggaran US $ 6 milyar. 
Angkatan Udara akan menempatkan skuadron-skuadron tempurnya di Medan   (1 skuadron F16), Pangkal Pinang  (1 Skuadron Sukhoi) dan Madiun (2 Skuadron Sukhoi).  Eksisting  yang sudah ada 1 Skuadron Sukhoi di Makassar, 1 Skuadron F16 di Madiun, 1 Skuadron F5E di Madiun, 1 Skuadron Hawk di Pekan Baru dan 1 Skuadron di Pontianak.  Dengan masuknya arsenal baru terjadi pergeseran lokasi skuadron, Tarakan mendapat 8 SuperTucano dan 8 Hawk, Malang 8 SuperTucano, Yogya 16 Yak130.   Skuadron F16 di Madiun digeser ke Kupang dan F5E digeser ke Biak dan Timika.

Membaca peta arsenal ini saja jiran sebelah terutama Malaysia, Singapura dan Australia dijamin berkeringat apalagi jika lima tahun ke depan sudah menjadi kenyataan, bisa-bisa tak bisa tidur mereka.  Namun bagi sebuah negara besar seperti NKRI, wajar saja diperlukan alutsista dalam jumlah besar untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsa, agar negara lain tidak terus menerus meremehkan kekuatan pengawal republik kita.  Yang jelas dalam pembangunan kekuatan milter ini semuanya ditujukan untuk mempertahankan kedaulatan NKRI dari ancaman pihak manapun, setidaknya mereka akan berhitung ulang jika ingin melecehkan teritori Indonesia.

****
Jagvane


Indonesia Membangun Industri Alutsista

Klaim Malaysia atas blok konsesi Ambalat di Provinsi Kalimantan Timur lima tahun silam dengan menggerakkan kapal perangnya di sekitar Karang Unarang membuat marah petinggi TNI. Cilangkap menganggap ini merupakan  penghinaan teritori NKRI terbesar sepanjang 40 tahun terakhir karena berkaitan dengan manuver kapal perang asing yang melakukan provokasi terang-terangan sampai menyandera pekerja pembuatan mercu suar Karang Unarang.

Mabes TNI segera melakukan operasi militer dan intelijen dengan mengerahkan puluhan kapal perang dan ribuan pasukan marinir ke lokasi Ambalat, menempatkan sejumlah pesawat tempur di Balikpapan dan Tarakan, dan mengusir kapal perang Malaysia dari perairan itu sekaligus memastikan kehadiran 5-6 kapal perang yang ready for siaga yudha 24 jam sehari.

Kondisi ini tentu bukan untuk hangat-hangat tahi ayam.  Petinggi TNI pasti tahu bahwa urusan klaim teritori memerlukan waktu penyelesaian bertahun-tahun dan selama waktu itu TNI harus terus melakukan pengawasan penuh atas wilayah konflik perbatasan.  Dalam perjalanan waktu itu tentu saja pemikir strategis TNI melakukan olah pikir dan olah daya sembari menginventarisir kekuatan alutsista yang dimiliki dan lalu dibandingkan dengan milik tetangga. 

Sebagai negara kepulauan terbesar tentu saja kekuatan angkatan laut dan udara merupakan kekuatan pukul utama manakala negara dalam keadaan diserang negara lain baik skala terbatas maupun skala luas.  Nah, setelah dihitung-hitung dengan cermat maka dimulailah program peremajaan alutsista dengan membeli arsenal ke berbagai negara.

Selama kurun waktu tahun 2007 sampai 2010 ini berbagai alutsista strategis sudah dalam genggaman TNI bersama perkuatan personil.  Bisa disebut 4 korvet sigma buatan Belanda, 4 LPD kerjasama Korsel-PAL, integrasi sistem tempur dengan rudal yakhont pada KRI Fregat Ahmad Yani Class, pasang rudal C802 di sejumlah Kapal Cepat Rudal, overhaul Kapal selam KRI Nanggala di Korsel (bonusnya hibah 10 LVT7 amphibi), pembuatan 16 kapal cepat rudal di PAL, pembuatan 11 LST di PAL, 6 Sukhoi, 17 tank amphibi BMP-3F, pasang radar militer di 7 lokasi  strategis, pembentukan skuadron UAV di Pontianak dan Pekan Baru, pembelian 16 Super Tucano, tambahan pesanan 6 Sukhoi, tambahan  6 unit pesawat tempur F16, upgrade 8 Hercules, pesan 9 heli Cougar dari PT DI, pesan 6 CN 235 ASW dari PT DI, beli 4 MI35 dan 8 Mi17, pembelian ratusan rudal QW3 untuk Marinir dan Paskhas, pembelian rudal Exocet terbaru, pembuatan 154 panser Pindad, kerjasama pembuatan 44 panser Canon dengan Korsel, beli 40 kendaraan lapis baja dari Jerman, beli ratusan rudal anti tank, pembangunan pangkalan TNI AL di Padang, Tarakan, Kupang dan Merauke, pembangunan pangkalan TNI AU di Tarakan, penambahan puluhan batalyon infantri, mekanis, marinir dan paskhas, pembentukan divisi 3 Kostrad.  Setidaknya ini yang nampak di depan mata.

Tahun 2010 program alutsista dipertajam dengan membanguni industri hankam dalam negeri dengan memberdayakan PT PAL, PT DI, Pindad dan industri alutsista swasta  untuk menghasilkan arsenal produksi dalam negeri termasuk kerjasama dengan LN membangun altusista di tanah air.  Kemhan melakukan terobosan besar dibawah kepemimpinan Menhan Purnomo dengan melakukan kerjasama strategis pembuatan pesawat tempur KFX bersama Korsel.  Kemudian Kemhan juga meluncurkan pembuatan 10 kapal perang PKR kerjjasama dengan Schelde Belanda.  Tahun ini juga akan dilaunching proyek strategis kerjasama pembuatan minimal 4 kapal selam  kerjasama dengan Jerman atau Korsel.  Proyek rudal strategis juga sudah berjalan mulus tanpa publikasi luas. Rudal Lapan-Pindad mampu menempuh jarak tembak sampai 350 km.  Oktober ini akan dilakukan uji coba dengan menembakkan 10 rudal berhulu ledak tinggi di  pusat latihan tempur Baturaja Sumatera Selatan.

Untuk jangka panjang memproduksi alutsista buatan negeri sendiri sesungguhnya memberikan nilai ibadah yang tinggi bagi generasi bangsa berikutnya.  Betapa tidak, mereka yang diwariskan dengan industri hankam strategis akan merasa sangat bangga bahwa tanah airnya yang bernama Indonesia sudah mampu memproduksi pesawat angkut, pesawat tempur, kapal perang, kapal selam, tank, rudal dan arsenal lainnya.  Kondisi ini akan memberikan semangat bertanah air yang tinggi dan fight serta memberikan dampak detterens bagi jiran yang suka meremehkan kedaulatan NKRI.  Ingat cara Soekarno membuat proyek bernilai nasionalis tinggi, Masjid Istiqlal, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monas, Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera.  Itu semua dibangun ketika ekonomi rakyat berkategori sangat miskin namun sekarang menjadi kebanggaan bangsa dan rakyat kita.

Kita berharap pembangunan industri alutsista dalam negeri ini berjalan konsisten, terpadu, terarah dan transparan tanpa benturan konflik kepentingan.  Soalnya musuh terbesar dalam program ini  adalah  ketidakkonsistenan itu sendiri dan intelijen makelar senjata yang selalu merayu petinggi Kemhan dengan berbagai cara, dengan iming-iming komisi menggiurkan untuk memakai arsenal buatan pabrik kapitalis ini dan itu.  Mudah-mudahan Menhan Purnomo yang enerjik dan berakal cerdik itu bersama pengambil keputusan di Kemhan dan Mabes TNI mampu berjalan seiring, seia sekata untuk menghasilkan alutsista strategis buatan anak bangsa, mewariskan kehormatan dan kebanggaan pada generasi bangsa berikutnya.

****
Jagvane

Mengukur Nyali Malaysia

Pasukan Marinir embarkasi menuju Ambalat
Belum pernah dalam sejarah perjiranan selama  lebih 4 dekade dilontarkan pernyataan bernada provokatif dari seorang Menlu Malaysia agar pemerintah Indonesia segera menghentikan aksi-aksi demo warga negaranya sebab kalau tidak kesabaran rakyat Malaysia ada batasnya, Wow, apa pasal ni Pak Cik, bukankah sebab musababnya perkara ini adalah penangkapan 3 orang petugas KKP Indonesia oleh Polis Marine Malaysia di perairan Indonesia.  Lalu akibatnya ada demo ikhwan nasionalis di Kedubes pakai lempar kotoran manusia.  Akibat perkara dimegaphonekan di media Malaysia, sementara sebab perkara tak tampak di depan mata walau sebesar gajah.

Bukankah ini arogansi dari sebuah etika bertetangga, bukankah ini statemen keangkuhan dari sebuah negeri yang sudah merasa lebih makmur, atau memang sengaja dikumandangkan sebagai bagian dari uji nyali kepada tetangganya yang sepuluh kali lebih besar dari dirinya.  Kalau dibandingkan dengan cara bertetangga dari seluruh warga dunia, mungkin hanya pertetanggaan rakyat Indonesia dan Malaysia yang paling heboh hiruk pikuknya.  Inggris dan Perancis walau ada gengsi sejarah, tidak juga seriak dengan dua bangsa serumpun ini.

Membandingkan dinamika Indonesia dan Malaysia bisa juga ditarik dengan melihat pola hubungan India – Pakistan yang posisi jumlah penduduknya 10 :1.  Sama-sama dimerdekakan Inggris lalu berpisah karena perbedaan agama, sepanjang sejarahnya mereka telah berperang sebanyak 2 kali.  Yang terakhir mengakibatkan Pakistan Timur menjadi Bangladesh tahun 1971.  Sepanjang persaingan itu keduanya melakukan lomba persenjataan dan akhirnya sama-sama punya senjata nuklir.  Dalam dinamika itu Pakistan terlihat lebih agressif, lebih cerewet dan banyak melakukan manuver gertak sambal.  Terakhir ketika ada penembakan oleh teroris di Bombay hampir saja terjadi perang antara kedua bangsa, namun India mampu meredam emosinya dengan menahan diri dan mengelus dada.

Nyali Malaysia agak mirip dengan agresivitas Pakistan, biasalah yang lebih kecil biasanya lebih banyak sundulannya agar kelihatan lebih jago.  India cenderung lebih kalem  namun secara diam-diam memperkuat militernya menjadi seperti yang sekarang ini.  

Malaysia merasa dia lebih kuat militernya dibanding Indonesia hanya karena arsenalnya lebih modern, tapi dia lupa  spirit tempur bukan ditentukan oleh kelengkapan senjata.  Ingat sejarah terusirnya AS di Vietnam atau Rusia dan Afghanistan, apa yang kurang dari dua negara besar ini, senjatanya luar biasa dan modern tapi kalah juga.  Jangan lupa Angkatan Udara tidak dapat memenangkan pertempuran, ibu dari segala perang adalah Angkatan Darat.

Seandainya Leadership kita tegas dan tanggap dalam menjawab dinamika perkembangan yang terjadi dengan Malaysia, kita yakin nyali Malaysia tak sampai memberi kesan kita pecundang dia pemenang.  Tegas bukan berarti ngajak perang tapi kekuatannya terletak pada kegagahan diplomasi.  Bisa saja diucapkan statemen seperti ini: “Dinamika bertetangga adalah mengawal hubungan atas dasar kepentingan bersama.  Manakala pola ini dicederai dengan statemen provokatif, maka Indonesia akan lebih memperhatikan harga dirinya sebagai bangsa.  Kami juga tidak segan-segan untuk menarik seluruh TKI yang ada di Malaysia atau melakukan travel warning bagi warga kami yang akan bepergian ke Malaysia.  Kami memang masih kalah makmur dengan Malaysia, kami sudah terbiasa hidup susah, namun harga diri dan rasa nasionalis bangsa kami sudah terbukti dalam sejarah perjalanan bangsa ini.  Oleh sebab itu jangan coba-coba memprovokasi bangsa dan rakyat kami karena tindakan balasan kami  akan memberi rasa kejut yang tak terduga”.

Seandainya statemen itu yang digemakan di Mabes TNI, kita sangat yakin nyali Malaysia akan ciut dan tidak lagi melontarkan statemen bernada ancaman.  Argumennya sederhana, Negara baru makmur atau orang kaya baru biasanya banyak polah, banyak tingkah dan pamer diri untuk sebuah pengakuan, namun ruang nyalinya rapuh karena takut ini dan takut itu.
*****
Jagvane

Daya Gempur Menhan RI Purnomo

Sat Gultor Kopassus Anti Teroris

Mulai kelihatan taji Purnomo di Kementerian Pertahanan, dan alokasi sosok sekaliber dia yang ditempatkan oleh Presiden SBY untuk mengemudikan Kemhan yang sempat dijuluki SBY sebagai Departemen Bobo (Boros dan Bobrok) dinilai tepat waktu dan tepat guna.

Taji itu diperlihatkan Purnomo ketika konflik border Indonesia- Malaysia memanas pekan-pekan terakhir ini. Dia buat statemen yang membuat  baris berbaris kita berubah menjadi langkah tegap.  Betapa tidak, dia secara gamblang mengatakan bahwa sesungguhnya TNI kita siap berperang dengan Malaysia kapanpun, TNI adalah yang terkuat di ASEAN bahkan TNI AD memiliki pasukan dengan semangat tempur tinggi dan alutsista modern.

Leadership sesungguhnya begitu. Kalau ada negara lain memprovokasi, harus dijawab dengan ketegasan cara pandang dan sikap.  Cara pandang Purnomo mencerminkan ketegasan dan tak kalah gertak dan statemen dia mampu membangkitkan semangat prajurit dan rakyat yang cinta tanah airnya.  Itulah (barangkali) yang membuat SBY memandang sikap Purnomo memang cocok memimpin Kemhan yang warganya semuanya punya senjata.

Menjelang proklamasi kemerdekaan RI ke 65 barusan, tepat sehari sebelumnya, beliau bersama jajaran Kemhan meresmikan peluncuran program pembuatan kapal perusak kawal setara Light Fregat.  Ini adalah kapal perang berukuran besar setara dengan Lafayette milik Singapura.  Yang membanggakan tentu saja pembuatan kapal itu dilakukan di dok PAL Surabaya kerjasama dengan Schelde Belanda.  Sesuai rencana akan dibuat 10 PKR untuk memperkuat armada tempur TNI AL.

Tahun ini juga direncanakan akan diproklamirkan pembuatan kapal selam di Indonesia, juga di PAL kerjasama dengan Jerman atau Korsel.  Kalau melihat bentuk kerjasama ini dapat dipastikan jumlah kapal selam yang akan dibuat paling sedikit 4 biji sebagai syarat alih teknologi.  Biasanya Korsel tidak pelit untuk yang satu ini, terbukti dengan pembuatan 4 LPD, 2 di Korsel dan 2 di PAL.

Yang juga tak kalah spektakuler adalah kerjasama pengembangan dan pembuatan pesawat tempur generasi 4.5 dengan Korsel. Kerjasama ini mendapat perhatian serius dari jiran Malaysia yang merasa “terpukul” atas pernikahan KFX antara Indonesia dan Korsel, sebab sebelumnya Malaysia juga berminat tapi Korsel lebih memilih Indonesia karena sudah tersedia infrastruktur sumber daya di PT DI.

Surabaya juga telah ditetapkan sebagai areal produksi alutsista TNI berskala besar.  PT PAL saat ini sibuk melakukan modernisasi persenjataan KRI, pembuatan puluhan kapal cepat rudal dan menyelesaikan 1 LPD terakhir dari 4 yang dipesan TNI.  Order gede yang diperoleh tentu saja membanggakan dan sekaligus menghemat devisa, pemberdayaan industri Hankam dalam negeri.   Pindad juga kebagian order menyelesaikan 154 Panser TNI AD, memproduksi artileri dan roket serta perawatan tank.  Alutsista strategis kerjasama Lapan dan Pindad berupa rudal yang mampu mencapai jarak jangkau 300 km  sudah on going project.

Dari semua prestasi itu tidak salah kalau kita menyebut Purnomo memang punya daya gempur yang gegap gempita untuk menjadikan TNI gagah perkasa, termasuk mengajak orang Kemhan bersikap kesatria untuk membangun industri hankam dalam negeri dan tak mudah terjebak rayuan makelar senjata luar negeri.  Kalau memang belum mampu diproduksi di dalam negeri tak mengapa beli di LN seperti Sukhoi, Super Tucano.  Jika project KFX sudah jadi, tak perlu jua beli pesawat tempur lain karena KFX sudah mampu menggetarkan rantau ASEAN.

********
Jagvane

Militer Indonesia Unggul atas Malaysia


Armada KRI menuju pangkalan induk Surabaya selesai mengikuti LATGAB
Militer Indonesia sejatinya tidaklah lemah seperti yang digambarkan dan diceritakan beberapa kalangan terutama pengamat asbun.  TNI selama ini selalu menampilkan posisi low profile demi menjaga stabilitas kawasan dan peran sejarah era konforontasi.  Waktu itu dengan kekuatan alutsista seabreg dan semangat tempur tinggi yang dimiliki prajurit TNI bersama sukarelawan, negara tetangga menjadi gerah dan gelisah.

Dengan semangat tak mau tampil high profile, saat ini kekuatan TNI tidak bisa dipandang sebelah mata.  Kekuatan angkatan laut Indonesia sangat jauh mengungguli kekuatan tentera laut diraja Malaysia dengan kekuatan armada 3 :1  dimana armada tempur TNI AL punya kekuatan 146 KRI, 375 KAL, 2 kapal selam dan 2 divisi marinir.  Sementara TLDM hanya punya 54 KD, 2 kapal selam dan tidak mempunyai pasukan marinir.

TNI AD jangan dikata lagi, punya divisi Kostrad sebagai pasukan pemukul reaksi cepat, pasukan Kodam, Raiders dan Kopassus.  Kekuatan darat TNI diperkuat oleh sedikitnya 250.000 tentara yang punya semangat tempur tinggi dan alutsista yang modern, termasuk rudal-rudal jarak pendek buatan dalam negeri.  Batalyon-batalyon tempur tersebar di seantero nusantara.  Saat ini sedang dibangun satu divisi baru Kostrad untuk mengcover wilayah Indonesia Timur.

Untuk kekuatan Angkatan Udara, Malaysia sedikit lebih unggul dalam jumlah pesawat tempur namun masih kalah dalam jumlah seluruh pesawat yang menunjang operasi udara.  Malaysia punya 18 Sukhoi, 10 Mig 29, 8 F18/Hornet, 8 F5E, 16 Hawk, sementara Indonesia memiliki 10 Sukhoi, 10 F16, 12 F5E, 36 Hawk.  Untuk pesawat angkut Indonesia punya 27 Hercules dan puluhan pesawat angkut ringan termasuk 16 Heli Super Puma.

Jika melihat renstra TNI ke depan, tidak diragukan lagi pengawal republik ini akan sampai pada kekuatan minimum essential force dalam 4 tahun ke depan.  Dari TNI AL sudah disiapkan pembuatan 10 PKR light Fregat kerjasama PAL dan Belanda.  Pembuatan 32 Kapal Cepat Rudal buatan dalam negeri, pengadaan sedikitnya 2 kapal selam, modernisasi sistem tempur terhadap 42 KRI combatan dengan memasang rudal Yakhont dan C802.  Marinir akan dilengkapi dengan sedikitnya 90 Tank tempur amphibi buatan Rusia BMP-3F dan sudah dipersenjatai dengan rudal Qw3 buatan China.

TNI AU sudah memesan 6 unit Sukhoi, 16 Super Tucano, 8 Heli Cougar,  16 pesawat latih lanjut.  Tanpa publikasi luas TNI AU juga akan menambah sedikitnya 12 unit F16 blok 52, bahkan pilotnya sudah berlatih di arizona AS.  Untuk pemantauan udara sudah ditambah sedikitnya 3 radar di Indonesia Timur dari Thales, dan berencana menambah lagi sediktinya 4 radar dari jenis yang sama.

Angkatan darat juga berbenah.  Kodam Kalbar dihidupkan lagi, puluhan batalyon tempur dibentuk di perbatasan Kalimantan dan NTT.  Alutsista diperbanyak secara besar-besaran termasuk roket dan rudal yang mempunyai fungsi strategis.  Untuk Kalbar akan ditempatkan sediktinya 80 Main Battle Tank  sementara rudal-rudal jarak pendek sudah digelar.

****
Jagvane