Tuesday, January 17, 2017

Yang Mau Datang Tahun Ini

Modernisasi alutsista militer Indonesia terus berlanjut. Kita masih terus memesan alutsista berteknologi tinggi, sementara yang mau datang tahun ini cukup banyak, yaitu :
• 10 jet tempur F16 blok 52Id dari AS
• 3 pesawat angkut berat Hercules dari Australia
• 2 pesawat angkut sedang CN295 dari Spanyol
• 2 pesawat patroli maritim CN235 produksi PT DI
• 2 Radar Master T Thales dari Perancis
• 2 Arhandud Oerlikon Skyshield dari Swiss
• 3 Helikopter Combat SAR Caracal dari Perancis
• 2 Helikopter Apache dari AS
• 7 Helikopter Fennec AS550 dari Perancis
• 4 Helikopter anti kapal selam Panther dari Perancis
• 2 kapal selam “Nagapasa Class” dari Korsel
• 2 kapal light fregat PKR10514 JP Belanda dan PT PAL
• 3 KCR (Kapal Cepat Rudal) produksi PT PAL
• 6 KPC (Kapal Patroli Cepat) prod gal kapal swasta nasional
• 2 Kapal Landing Ship Tank prod gal kapal swasta nasional
• 1 Kapal latih layar Bimasuci dari Spanyol
• 1 Kapal Logistik produksi galangan kapal swasta nasional
• 4 MLRS Norinco dari China
• 20 Artileri Nexter LG I MK III dari Perancis
• 30 MBT Leopard RI dari Jerman
• 20 Panser Badak produksi PT PINDAD
• 10 APC Sanca produksi PT PINDAD
• 50 APC M113 dari Belgia
• 1 Detasemen Rudal Starstreak dari Inggris

****
17 Jan 2017 / Jagarin Pane / Dari berbagai sumber



Wednesday, January 4, 2017

Alutsista Kita, Mengapa Membeli Berbagai Merek

Modernisasi militer Indonesia yang terus berkibar sampai saat ini menunjukkan suasana pasar alutsista yang hiruk pikuk. Berbagai produsen alutsista menawarkan produknya dengan penuh gairah dan sang pembeli pun tergiur dengan berbagai merek yang ditawarkan. Dalam lima tahun ke depan suasana pasar yang begitu gempita akan memberikan gelora yang lebih hangat. Dan sang pembeli akan semakin tergoda dengan bujuk rayu pemilik merek untuk melirik dan memeluk produk mereka.

Marinir kita sudah punya alutsista MLRS (Roket Multi Laras) bermerek RM Grad buatan Ceko, jumlahnya tidak banyak.  Lalu datang lagi yang bermerek Vampire juga buatan Ceko. Tidak apa-apa karena Vampire adalah edisi terkini serial MLRS. Tetapi kemudian dalam waktu berdekatan muncul lagi MLRS dari Norinco Cina. Mengapa tidak melanjutkan Vampire saja, termasuk kembali memperbanyak jumlah tank amfibi BMP3F yang jumlahnya baru mencapai 60 unit.  Kalau Marinirnya mau dikembangkan sampai tiga divisi tentu perlu ratusan tank amfibi modern.
Helikopter Cougar TNI AU
Demikian juga untuk kapal perang PKR Project 10514 bisa dilanjut untuk kapal perang ketiga sampai keenam. Ini kan proyek transfer teknologi yang sedang berjalan.  Kasihan ilmu TOT nya kalau hanya sampai di kelas dua alias hanya dua kapal tok.  Ilmu terapan belum bisa dibuktikan. Termasuk proyek kapal selam Changbogo dengan mekanisme serap teknologi dari Korsel. Kapal selam keempat dan seterusnya bisa dibuat para insinyur kita yang sudah bersusah payah menggalinya dalam pembuatan kapal selam pertama sampai ketiga.

Sambil menunggu proyek prestise jet tempur KFX/IFX selesai, selayaknya kita perbanyak Sukhoi SU35. Tidak cukup hanya delapan unit, minimal ada satu skadron alias 16 unit. Tidak usah tergiur merek lain yang banyak ditawarkan. Masih ada lanjutan pengadaan F16 blok 52id yang belum datang.  Fokus itu saja, kalau mau ditambah Viper akan lebih baik. Jadi cukup Sukhoi Family dan F16 sebagai jet tempur utama.

 Membeli banyak jenis alias merek dengan kuantitas terbatas akan menimbulkan kesan seolah-olah hanya ingin bergaya untuk parade militer. Banyak merek padahal kuantitasnya hitungan jari. Asisten pertahanan dari negara sahabat yang diundang dalam acara parade militer, sedikit banyak kan tahu dengan situasi dan kondisi ini. Jadi untuk apa bergaya kalau jeroannya sudah terang benderang.
Panser Canon Badak
Soal Helikopter Agusta Westland AW101 yang heboh dua kali, mencerminkan suasana yang hangat “diantara sesama petinggi”. Presiden Jokowi menginstruksikan agar dilakukan investigasi mengapa proyek yang sudah dibatalkan setahun sebelumnya muncul kembali.  Ini juga sebuah keanehan logika, sudah dibatalkan lalu kemudian mau datang lagi.  Kita sudah punya Super Puma, kita sudah pesan dan datang EC725 Caracal yang Combat SAR itu.  Lalu untuk apa AW101.

Untuk urusan produksi Helikopter, PT DI baru sebatas merakit.  Ini beda dengan produk pesawat angkut CN235 yang terkenal itu. TNI AU memakai produk andalan PT DI ini bersama penerbangan sipil dalam negeri dan beberapa negara sahabat. Sayangnya produk ini tidak dimarketingkan secara terus menerus, dan bahkan TNI AU sudah beralih ke CN 295.  Ini yang membuat Chappy Hakim mantan KSAU mengkritisi kinerja PT DI yang tidak optimal mengembangkan dan menghasilkan produk andalan, selain merakit.  Jadi mirip peribahasa merakit -rakit selalu, berkembangnya kapan-kapan.

Kita masih membutuhkan kuantitas dan kualitas alutsista berteknologi terkini. Kita masih membutuhkan setidaknya 10 kapal perang jenis PKR 10514, maka tambahlah proyek transfer teknologi itu dengan cap made ini bangsaku. Kapal selam masih kurang banyak, maka buatlah lanjutan serial Changbogo dengan cap made ini negeriku. Ilmu transfernya sudah didapat, lalu buktikan.  Kita sudah buktikan bisa buat kapal perang jenis LPD untuk militer Filipina, ilmunya kan dari Korsel.

Yang namanya produsen alutsista tentu giat dan aktif menawarkan produk unggulannya, itu sudah hukum pasar. Marketer mereka bersemangat mencari jalan dan celah untuk bisa menembus desicion maker. Pintunya adalah pendekatan dan kedekatan personal, aromanya parfum komisi alias gizi penunjang aktivitas.  gelora rayu dan ramah senyum adalah bagian dari dinamika itu.  Sementara bagi pembeli ada koridor rambu yang harus ditaati.

MBT Leopard

Salah satunya adalah UU No16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.UU itu menyebut terang bahwa pengembangan industri pertahanan merupakan bagian terpadu dari perencanaan strategis pengelolaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan dan keamanan Negara. Jadi tugas pemerintah adalah bertanggungjawab membangun dan mengembangkan industri pertahanan agar berdaya saing.

Bisa diproduksi sendiri, pakai buatan sendiri, contohnya Panser Anoa, Badak, Kapal Cepat Rudal, LPD, CN235. Kerjasama produksi yang sedang berjalan contohnya PKR10514 dan Changbogo.  Belum bisa buat, beli bekas seperti MBT Leopard, Tank Marder, F16 dan Hercules. Tapi kemudian tiba-tiba muncul ratusan kendaraan lapis baja M113 dan beberapa unit Bushmaster.  Lalu bagaimana kelanjutan Panser Anoa dan Badak kalau dasarnya adalah UU No 16 tahun 2012. Apalagi Pindad sedang mengembangkan Tank medium.

Anggaran besar Kemhan adalah madu dan magnet bagi produsen alutsista. Namun penggunaan dan pengembangan industri pertahanan strategis adalah tugas bersama mengolah dan mengelolanya. Godaan produsen luar negeri yang genit bisa diatasi dengan model pengadaan transfer teknologi dan imbal jasa.  Tetapi penyederhanaan merek perlu diimplementasikan agar tidak timbul kesan terjadi faksi salesman di pintu pengadaan alutsista.  Beli sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan, kata Presiden.  Jelaskan ?
****

Jagarin Pane / 04 Jan 2017

Tuesday, December 20, 2016

Meluruskan Musibah Hibah

Militer Indonesia sedang berduka. Sebuah pesawat angkut berat Hercules A1334 milik skadron 32 Abd Rahman Saleh Malang, rute Timika-Wamena Papua jatuh menjelang landing di Bandara Wamena Minggu tgl 18 Desember 2016. Sebanyak 13 prajurit TNI AU gugur dalam menjalankan tugas latihan konversi pilot definitif.

Seperti biasa berbagai jenis kelamin media, apakah dia bernama media layar kaca, layar baca, layar internet, dan bahkan media sosial meramaikan suasana dukacita musibah itu untuk membombardir predikat hibah yang disandangkan pada pesawat yang kena musibah.  Karena pesawat bekas hibah lalu kena musibah,maka ramai-ramai mencari salah, korbannya adalah hibah. Untung saja gak ada yang ngomong bedebah.

Mestinya musibah apapun disikapi dengan nurani yang bening sembari merenungkan makna dibalik setiap musibah. Bahwa kombinasi teknologi terkini, kecakapan pilot, faktor cuaca, beban pesawat adalah bagian dari instrumen berhasilnya jalan terbang pesawat.  Pesawat Hercules A1334 itu memang pesawat tua tetapi seluruh instrumen mesin, avionik, radar sudah diperbaharui.  Artinya teknologinya sudah terkini.
Hercules A-1334
Kita terpaku pada usia jam terbang dan mengecilkan peran overhaul, retrofit atau pembaharuan instrumen.  Sama pemikirannya ketika kita sedang naik jip hardtop yang mesinnya sudah diganti dengan mesin Kijang, bawaan kita masih pada bangunan fisik hardtopnya.  Kita terpaku pada usia pesawat naas yang sudah berusia 34 tahun, lalu berandai-andai dengan argumen ghibah.

Kita mungkin sudah lupa bahwa jatuhnya pesawat tempur Super Tucano di Malang 10 Februari 2016, bukanlah karena pesawat sudah tua.  Itu pesawat masih sangat baru dari pabrikannya di Brazil.  Kita pesan 16 unit pesawat ini dari Brazil. Atau naasnya pesawat aorobatic T50 Golden Eagle di Yogya tanggal 20 Desember 2015 dalam serial pertunjukan manuver. Pesawatnya baru banget, masih gres, beli dari Korsel sebanyak 16 unit alias satu skadron. Tidak ada yang hibah disini.

Lebih dramatis lagi pesawat yang benar-benar baru keluar pabrik, jenis angkut berat militer A400M buatan Airbus Spanyol, terjerembab di dekat bandara Sevilla Spanyol tangal 9 Mei 2015.  Pesawat yang mampu membawa muatan 37 ton itu harus tamat riwayatnya di depan pabriknya sendiri.  Masih ingat Lion air yang jatuh di laut dekat Bandara Ngurah rai tanggal 13 April 2013 menjelang landing.  Apakah itu pesawat tua ? tentu tidak, umurnya masih sangat muda.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan program kerjasama militer RI_Australia soal pesanan 9 Hercules bekas, 4 diantaranya hibah dan sisanya beli second.  Seluruh pesawat itu diretrofit dulu semua instrumennya.  Empat pesawat hibah yang diretrofit itu ongkosnya ditanggung Indonesia. Jadi gak hibah-hibah gitu aja, dibagusin dulu, uji coba, bayar, lalu dibawa ke tanah air. Sebagai catatan 4 pesawat hibah berbayar yang sudah di retrofit itu yang bernomor seri A1330-A1333 bagus-bagus aja tuh sampai saat ini.

Lalu ketika jet tempur T50 Golden Eagle jatuh di Yogya, atau Super Tucano nubruk rumah di Malang, atau Helikopter Mi17 jatuh di Kaltara, atau Lion nyemplung di laut Bali, atau A400M jatuh di depan pabriknya. Apakah semua musibah itu karena faktor hibah atau barang bekas, tentu tidak, karena waktu itu si hibah sedang tidur, tidak pantas dan tidak layak jadi korban ghibah.
KRI REM331, benar-benar baru kerjasama teknologi
Mengapa harus ada jurnalisme ghibah yang menjuruh fitnah. Karena kita belum mampu menjalankan amanah dengan fathonah. Kita lihat beberapa media televisi, bukan memberitakan secara obyektif tetapi memberitakan lewat sudut pandang, maksudnya sudut pandang pemiliknya.  Kasihan awak medianya, harusnya membela yang benar berganti dengan membela yang bayar.

Anggaran pertahanan kita belum sebesar yang diharapkan.  Tahun depan dapat kucuran 108 trilyun, Alhamdulillah. Kalau bicara soal anggaran, baru lima tahun inilah pembesaran anggaran terlihat bagus, naik secara signifikan.  Tetapi selama puluhan tahun sebelum itu kita telah melemahkan militer kita sendiri dengan kucuran anggaran yang seuprit sehingga ketika para tetangga sudah modern militernya barulah kita terbangun.

Kita baru sadar dengan negeri kepulauan terbesar sedunia ini, sumber daya alamnya melimpah, populasinya ratusan juta tetapi militernya hampir tidak punya gigi alias sedikitnya alutsista apalagi yang berkualitas.  Maka program beli 24 F16 bekas dilakukan dengan duit $750 juta. Demikian juga dengan program pengadaan 9 Hercules bekas dari Australia.  Salah? Tidak juga karena kuantitas alutsista kita memang terlanjur malu-maluin sehingga butuh kuantitas agar coverage patroli dan angkut logistik terpenuhi.

Lagian kalau ada pesawat jatuh tidak mutlak si hibah jadi korban fitnah.  Banyak faktor penyebab sehingga penelitian nanti yang akan menjawabnya.  Sayangnya ketika hasil penelitian nanti diungkap “suasana emosional” sebagian besar kita sudah surut, sehingga tak menjadi perhatian lagi.  Itulah sebagian besar kita, mudah difitnah media melalui diskusi ilmiah (katanya) dengan pengamat level kuliah, berlagak amanah ternyata kurang fathonah.

Mumpung bulan Maulid, duhai media, kembalilah kepada kriteria shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah.  Beritakan, tablighkan, sampaikan segala sesuatu dengan benar, dengan shiddiq sebagai bagian dari tugas yang penuh tanggung jawab, amanah.  Semua itu harus dibungkus dengan kecerdasan, fathonah agar kita terhindar dari ghibah dan fitnah. Kasian si hibah jadi korban fitnah karena musibah.


Jagarin Pane / 20 Des 2016