Wednesday, October 4, 2017

Ketika Tentara Memamerkan Diri

Gelar kekuatan pengawal republik tanggal 5 Oktober 2017 di Cilegon Banten menjadi ajang pameran pembangunan kekuatan militer Indonesia yang saat ini sedang giat-giatnya menggagahkan dirinya. Militer Indonesia sedang berada di ruang belanja alutsista selama delapan tahun terakhir ini untuk memenuhi kekuatan “gizi” alutsista, sebuah syarat utama yang harus dipenuhi untuk mendapat predikat gagah perkasa.

Ketika tentara belanja alutsista saat ini maka anggaran yang diperlukan tidak lagi bilangan berapa trilyun tetapi sudah memasuki kuantitas ratusan trilyun rupiah. Menghebatkan sosok militer dari sebuah negara kepulauan terbesar didunia memang perlu stok anggaran besar.  Karena selama puluhan tahun militer kita hanya mendapatkan “gizi” alutsista seadanya dengan alasan lebih mengutamakan pembangunan sektor lain.

Maka ketika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memaklumatkan modernisasi militer kita tahun 2010, anggaran yang dikucurkan selama lima tahun terakhir pemerintahannya mencapai 150 trilyun rupiah dengan aneka ragam pengadaan alutsista yang dijelaskan dengan cerdas oleh Kementerian Pertahanan. Publik dapat mengetahui informasi pengadaan berbagai alutsista dengan terang benderang.
Helikopter anti kapal selam Panther, kita beli 11 unit
Misalnya program beli 103 tank Leopard, program pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52Id, beli 16 Super Tucano, beli 16 Golden Eagle, beli 36 Astross, beli 37 Nexter, beli peluru kendali berbagai jenis, pengadaan 3 kapal selam dengan transfer teknologi dan banyak lagi ragam alutsista yang dibeli semuanya dipublikasikan. Alutsista yang dibeli utuh atau melalui kerjasama transfer teknologi atau yang sudah bisa dibuat sendiri dapat diketahui publik dengan jelas dan cerah.

Kita bisa melihatnya sekarang dan utamanya di ajang gelar kekuatan militer pada HUT TNI ke 72 tanggal 5 Oktober 2017 di Banten. Tiga matra TNI menampilkan berbagai jenis alutsista berteknologi yang membuat kita merasa bangga.  Bangga punya tentara yang gagah dengan derap langkap tegap, bangga punya alutsista yang canggih dan berteknologi. Tiga matra ini menampilkan model simulasi pertempuran modern di hadapan Presiden dan para undangan lain.

Membangun kekuatan militer dari sebuah negara kepulauan terbesar di dunia memerlukan anggaran besar. Tetapi ini bukan biaya alias beban untuk republik melainkan investasi yang melekat dari sebuah perjalanan ber eksistensi NKRI.  Militer adalah penjamin kelangsungan bernegara, berteritori yang bermarwah dan bagian dari kewibawaan berbangsa disamping tentu saja kesejahteraan ekonomi.
KRI Nagapasa 403, ada tiga unit yang kita pesan
Perkembangan situasi yang dinamis di sekitar wilayah teritori Indonesia mengharuskan kita memperkuat barikade teritori, dan itu belum terlambat. Pembangunan pangkalan militer tiga matra berkarakter sarang lebah di Natuna saat ini sedang berlangsung. Nantinya diharapkan mampu “membela dirinya sendiri” dari serbuan asing sebelum bala bantuan datang dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Demikian juga pangkalan angkatan udara di Medan, Tarakan, Kupang, Morotai dan Biak akan dikembangkan terus dan menjadi home base jet tempur, pesawat intai, drone dan paskhas untuk memastikan kewibawaan teritori Indonesia yang indah ini. Ini pekerjaan besar dan memerlukan waktu.  Itu sebabnya program MEF yang sudah dimulai tahun 2010 dan kita saat ini ada di program MEF II yang berkelanjutan dengan rezim yang berbeda tetap konsisten dengan modernisasi tentara kita. Kita apresiasi dua rezim yang berbeda dengan program berkelanjutan.

Sesungguhnya kita butuh waktu yang lebih cepat untuk perkuatan alutsista kita.  Maka sangat disayangkan terjadinya proses yang bertele-tele dari pengadaan jet tempur Sukhoi SU35.  Anggaran sudah disediakan pemerintah namun banyaknya campur tangan berbagai pihak membuat proses pengadaan jet tempur gahar itu menjadi gunjingan publik. Sama halnya ketika para petinggi negeri ini gaduh soal senjata milik salah satu institusi.  Masing-masing mengedepankan egonya.  Lebih lucu lagi sore membantah ada barang datang, malamnya baru mengakui.
Tank Harimau Hitam, kita produksi 100 unit tahun depan
Pertunjukan silat argumen diantara para petinggi itu sejatinya akan kalah hebat dengan pertunjukan kehebatan hulubalang republik yang dipertontonkan pada hari jadinya di Cilegon Banten. Dentuman demi dentuman dari berbagai alutsista gahar yang memperlihatkan sinergi pertempuran modern di hadapan Presiden Jokowi mestinya menjadikan renungan bathin.  Bahwa kita ini ber NKRI, kita ini ber Indonesia, kita ini bersaudara sebangsa, kita ini bangsa hebat, kita ini bangsa besar, kita ini bangsa kaya.

Maka wahai petinggi perbaguslah koordinasi dan sinergi, komunikasi dan hirarki, silaturrahmi dan introperability. Pertempuran modern ditentukan oleh interoperability dan kekuatan alutsista yang dimiliki. Bukan oleh omongan yang tak bersinergi dan hobby membantah. Publik pasti akan mentertawakan para pemimpinnya.  NKRI perlu militer yang kuat, anggaran sudah sedang dan akan terus dipenuhi pemerintah. Maka percepatlah proses pengadaannya,  jelaskanlah ke publik, buanglah ego sektoral. Jangan sampai publik sampai pada kesimpulan : kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah.

Selamat hari ulang tahun TNI ke 72
Adrenalin NKRI adalah TNI, kewibawaan NKRI adalah TNI, marwah teritori NKRI adalah TNI

****
Jagarin Pane / 04 Oktober 2017


Saturday, September 16, 2017

Gelar Kekuatan Menuju Hebat

Gelar kekuatan TNI akan diperlihatkan pada serebrasi HUT nya yang ke 72 tanggal 5 Oktober 2017 nanti di Cilegon Banten. Pameran menuju hebat kira-kira begitu meski harus diakui sampai saat ini sesungguhnya kekuatan militer kita belum masuk kategori hebat.  Tapi menuju hebat bolehlah karena jalan kearah itu sedang dilakukan melalui program strategis MEF I, II dan III. Kita sedang berada di MEF II.

Mengapa harus punya militer yang hebat, jawab singkatnya karena kita negara besar, negara kaya. Kaya sumber daya alam, besar sumber daya manusianya. Jadi kalau masih ada pikiran sempit yang mengatakan tidak perlu punya militer kuat maka pola pikir itu dinyatakan dengan pasti kurang wawasan kebangsaannya. Militer adalah adrenalin sebuah negara, dia juga adalah benteng eksistensi sekaligus pengawal teritori.
Apache TNI AD, kebanggaan tersendiri
Berpuluh tahun kita selalu disajikan format baku bahwa pembangunan ekonomi adalah nomor satu. Benar juga karena pengalaman pemerintahan Soekarno yang mendahulukan penguatan militer daripada ekonomi membuat kita tak beranjak petumbuhan ekonominya. Tapi jangan lupa penguatan militer itu karena tantangan jaman yaitu mengembalikan Papua ke pemilik sejati dan membendung neo kolonialisme lewat Dwikora.

Baru delapan tahun terakhir ini format itu disesuaikan dengan rumus sama. Dua-duanya seiring sejalan, pembangunan kekuatan ekonomi dilakukan bersamaan dengan pembangunan kekuatan militer. Ekonomi kita saat ini berada di lingkungan elite dunia masuk kelompok G20 dengan urutan ke 15. Militer kita juga ternyata tidak jauh-jauh rankingnya dari klasemen kekuatan ekonomi yaitu berada di peringkat 14 besar dunia.

Tantangan berteritori kita sejatinya luar biasa. Luasnya teritori yang harus dijaga dan membendung ekspansi teritori dari sebuah negara hebat di Asia adalah kewaspadaan yang harus dilakukan terus menerus. Maka perkuatan militer yang sedang dilakukan selama delapan tahun terakhir ini adalah dalam upaya penguatan pertahanan yang harus berkualifikasi hebat juga. Semua matra TNI harus diperkuat.

Anggaran yang dikucurkan untuk menguatkan militer kita menjadi yang terbesar dibanding kementerian yang lain. Catatannya adalah program hebat ini dengan anggaran yang besar harus dikelola bagus dan dikawal dengan kecerdasan bermanajemen di Kemhan.  Termasuk kecerdasan menyampaikan program kepada masyarakat republik.  Publikasi resmi terhadap rencana pengadaan alutsista harus disampaikan agar tidak menimbulkan fitnah.

Jangan sampai berita dan gosip yang didapat adalah versi makelar sales sementara berita yang sesungguhnya disembunyikan, tahu-tahu barang ghoibnya sudah datang. Contohnya kendaraan lapis baja M113. Maka konferensi pers yang dilakukan Kemhan soal pembelian Sukhoi SU35 baru-baru ini adalah langkah cerdas agar publik tidak terombang ambing.  Sebelum konferensi pers ada yang ngomong soal Gripen, seakan-akan sudah yakin akan dibeli, padahal itu versi salesman yang tentu saja menjagokan produknya.

Korupsi pembelian Apache, F16 serta  AW101 adalah cermin buruk yang menjadi ibrah untuk kita semua yang berhati jernih. Dua kasus korupsi itu saja punya nilai nominal rupiah yang luar biasa besarnya. Ironinya adalah soal helikopter AW101, saling lempar tanggung jawab lalu menyampaikannya ke ranah publik.  Ini menjadi sebuah gambaran kurang bersinarnya jalur koordinasi, konfirmasi dan komunikasi diantara pemangku jabatan strategis.
Kapal selam KRI Nagapasa, luar biasa
Menguatkan tentara adalah juga menguatkan bangsaku, tapi jangan pula diartikan sebagai menguatkan “bank saku” jenderal. Bangsaku ini harus kuat ekonominya dan harus kuat militernya. Maka pembangunan kekuatan ekonomi yang sedang berlangsung saat ini, pembangunan infrastruktur  di segala sektor termasuk pembangunan kekuatan militer kita adalah proses yang sangat membanggakan dan menjanjikan.

Maka pameran kekuatan militer kita yang akan disajikan dalam HUT TNI bulan depan adalah laporan pertanggungjawaban militer kepada rakyatnya yang telah bersusah payah patuh bayar pajak, retribusi, sumbangan, donasi, infaq untuk bangsanya. Sebagai bentuk tanggung jawab itulah gelar parade militer akan menampilkan alutsista-alutsista baru yang canggih dengan “jalan cerita” upacara yang menunjukkan nilai hebat.

Alutsista-alutsista baru yang akan ditampilkan adalah sang primadona kapal selam KRI Nagapasa 403. Kemudian helikopter serang Apache, Helikopter Blackhawk, Helikopter Anti kapal selam Panther, Kapal perang PKR10514 Martadinata Class, Tank medium Kaplan, Panser Pandur II, Arisgator, Artileri swagerak M109, MLRS Vampire, peluru kendali Starstreak, roket Rhan450.  Alutsista yang lain adalah MLRS Astross II Mk6, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH178, KH179, Tank Leopard, Marder, M113, Panser Anoa, Jet tempur F16, Sukhoi, Golden Eagle, Supertucano dan masih banyak yang lain, bisa disaksikan sendiri pada hari H nya.

Saat ini Indonesia sedang melakukan pemesanan dua kapal penyapu ranjau dari Jerman.  Sementara KRI Bimasuci sedang dalam persiapan menuju tanah air dari pabrikannya di Spanyol. Kita juga sedang menantikan kedatangan kapal selam kedua dari Korsel akhir tahun ini. PT PAL saat ini sedang membangun 1 kapal selam “Nagapasa Class” kerjasama dengan Korsel dan 1 kapal perang jenis KCR 60m.  Beberapa galangan kapal dalam negeri saat ini sedang membuat 1 kapal perang jenis LPD, 3 kapal perang jenis LST, 1 kapal perang jenis logistik BCM, 6 kapal perang jenis KPC. Tahun depan akan dimulai lagi proyek PKR tahap II dengan membangun 3 kapal perang jenis Martadinata Class.

Angkatan udara kita memesan 11 jet tempur Sukhoi SU35, menanti kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 dari AS, instalasi radar dan rudal 15 jet tempur T-50, upgrade 10 jet tempur F16 blok 15 Ocu, mendatangkan 4 Hercules dari Australia, menambah 2 CN295, menunggu kedatangan peluru kendali jarak sedang Nasam, menambah radar militer di 4 titik pertahanan, memperkuat pangkalan AU di Kupang, Natuna, Tarakan, Batam dan Biak. 

Kita memang sedang menuju hebat walaupun sesungguhnya kalimat yang tepat adalah mengejar ketertinggalan. Tertinggal sama negara tetangga. Jadi nanti jika MEF III yang berakhir tahun 2024 barulah kriteria setara bisa disandangkan. Setara bisa juga diartikan hebat karena mampu mengejar ketertinggalan menuju kesetaraan. Selamat hari ulang tahun, semoga semakin hebat dan perkasa mengawal republik tercinta tanpa mengenal lelah.
****
Semarang / 16 September 2017


Friday, September 8, 2017

Menyikapi RISING 50 Tahun

Singapura menjamu Indonesia secara meriah di acara perjalanan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.  Presiden Jokowi dan rombongan besarnya berada di negeri pulau itu selama dua hari 6-7 September 2017 untuk merayakan ulang tahun persahabatan kedua negara yang memasuki usia setengah abad. Acara yang paling gagah adalah tampilnya 20 jet tempur F16 kedua negara membentuk formasi angka limapuluh melintas Marina Bay disaksikan PM Lee Hsien Loong dan Presiden Jokowi.

RISING 50 tahun atau Republik Indonesia-Singapura 50 tahun adalah sebuah perjalanan dinamika bertetangga yang diisi dengan berbagai hal mulai dari kemarahan, keramahan, keangkuhan, keanggunan dan sebagainya mewarnai jalannya pertetanggaan itu. Bulan September 1967 secara resmi hubungan diplomatik Indonesia-Singapura dibuka dengan menempatkan masing-masing Duta Besar meski “cuaca bathin” waktu itu masih penuh permusuhan sebagai dampak DWIKORA.

Belum ada setahun hubungan itu memburuk dan nyaris menimbulkan pertempuran antara kedua negara. Marinir Indonesia siap menyerbu Singapura. Sebabnya adalah dieksekusinya dua marinir Indonesia Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968. Usman Harun melakukan infiltrasi dan sabotase di Orchard Road tahun 1965 ketika konfrontasi Indonesia-Malaysia memuncak. Singapura bagian dari Federasi Tanah Melayu pada waktu itu.
10 F16 Indonesia, 10 F16 Singapura
Tensi kemarahan itu berakhir dengan kunjungan PM Lee Kwan Yew ke Jakarta tahun 1973 dan menaburkan bunga di makam Usman dan Harun di TMP Kalibata. Presiden Soeharto bersedia menjamu PM Lee dengan syarat dia harus datang ke makam Usman Harun. Ini kemenangan diplomatik Indonesia. Dengan semangat ASEAN kedua negara mampu membangun dan merawat persahabatan berbasis keramahan dan saling menyapa.

Dalam perjalanannya kemudian Singapura berhasil membangun pertumbuhan ekonominya menjadi sebuah negara maju dan sejahtera termasuk juga membangun kekuatan militernya menjadi kekuatan sarang lebah yang menyengat. Sementara Indonesia, sebuah negara kepulauan terbesar dengan sumber daya alam yang kaya raya dan sumber daya manusia yang besar “baru mau akan” menjadi negara maju sejahtera. Pembangunan kekuatan militer kita tersendat selama puluhan tahun.

Maka sikap angkuh pun ditunjukkan negeri mungil itu di berbagai hal. Ketika para koruptor negeri ini bersembunyi disana, tak ada keinginan untuk membantu memulangkan dengan alasan tidak ada perjanjian ekstradisi. Ketika mau dibuat perjanjian pinjam lahan untuk latihan militernya mereka tidak mau dikaitkan dengan perjanjian ekstradisi. Kadang-kadang deru jet tempur mereka yang sedang latihan di lahan sempit negaranya menyentuh teritori Batam. Yang lebih menyakitkan kapal selam mereka bebas berkeliaran di perairan kita.

Yang heboh tentu saja ketika kita hendak memberi nama sebuah kapal perang kita dengan nama KRI USMAN HARUN bulan Februari 2014. Singapura mempertunjukkan diplomasi kekanak-kanakan dengan menyamai Usman dan Harun sebagai teroris.  Mereka keberatan jika satu kapal perang dari tiga kapal perang yang dibeli Indonesia diberi nama kedua pahlawan nasional itu.  Bahkan mereka membatalkan 100 undangan untuk Kemhan Indonesia yang akan menghadiri Singapore Airshow 2014.  Juga mereka keberatan jika kapal perang itu singgah di Batam.  Lucu ya.

Tapi kali ini kita bersikap tegas dan lantang.  Petinggi militer dan diplomatik kita bersuara seragam. Tidak boleh ada intervensi soal nama itu karena itu hak Republik Indonesia.  Singapura terdiam terpaku. Juga soal Tax Amnesty. Sementara kita jalan terus. Kekuatan ekonomi kita sudah menembus 15 besar dunia maka kita ikut group elite G20 dan nomor satu di ASEAN. Militer kita juga ternyata menduduki ranking 14 besar dunia, nomor satu di ASEAN. Pembangunan kekuatan militer kita berjalan terus dengan percaya diri.

Dalam strategi militer sekuat apapun militer Singapura tetap memiliki titik lemah fatal yaitu satu titik itu saja. Meski dia punya kekuatan udara yang luar biasa yang katanya bisa hancurkan Jakarta dalam hitungan jam tapi sesungguhnya kelemahannya ada di satu titik itu saja sementara kita terdiri dari ribuan titik yang menyebar luas.  Coba kita letakkan ASTROSS dan NEXTER di Batam, lalu bombardir Changi dan Paya Lebar. Meskipun jet tempurnya berhasil bom Jakarta tapi tentu mereka tak bisa pulang karena pangkalan militernya sudah hancur.

Kekuatan ekonomi  dan kekuatan militer kita saat ini tentu menjadi perhitungan Singapura.  Maka diplomasi RISING TREE yang dipertunjukkan kemarin merupakan sebuah upaya bermanis wajah untuk sahabatnya yang sedang menuju negara hebat.  Indonesia sedang membangun infrastruktur ekonomi secara besar-besaran, juga penguatan militer yang luar biasa. Singapura jelas mengamati perubahan hebat tetangganya itu.

Maka pesannya adalah, bertetanggalah dengan semangat kesetaraan, berdiplomasilah dengan bahasa ramah bukan marah, bersikaplah anggun bukan angkuh karena Indonesia yang tak akan mampu ditandingi Singapura sepanjang sejarah adalah kekuatan nasionalisnya, kekuatan sumber daya alamnya dan kekuatan sumber daya manusianya. Takdir Singapura adalah bertetangga seumur hidup dengan Indonesia. Hubungan itu saling membutuhkan, jangan merasa Indonesia butuh Singapura tapi ke depan justru Singapura butuh Indonesia.

Raungan 20 jet tempur F16 dengan membentuk formasi angka lima puluh kemarin begitu spektakuler maknanya. Angka lima diisi dengan 10 jet tempur Indonesia dan angka nol diisi dengan 10 jet tempur Singapura adalah gambaran kesetaraan itu.  Hubungan militer yang setara, hubungan diplomatik yang setara, hubungan ekonomi yang saling menguntungkan adalah bingkai bertetangga yang indah antara Indonesia dan Singapura.  Maka bertetanggalah dengan anggun dan ramah, kita akan membalasnya dengan sapa dan senyum, tak lupa sambil belanja terus di negeri tujuan wisata dan shopping center itu. Bisa aja.
****
Jagarin Pane / 8 September 2017