Monday, August 15, 2016

Ayo Diurai Dong

Pergelaran alutsista di negeri kepulauan ini memiliki karakter tersendiri karena memerlukan alat transportasi laut dan udara dalam kapasitas besar dan banyak. TNI AL punya tugas porsi besar dalam urusan geser menggeser alutsista. Disamping bertugas menggerakkan alias menggeser sejumlah kapal perang untuk tujuan patroli dan gugus tempur laut, juga diberi wewenang memindahkan alutsista matra darat beserta prajuritnya.

Sementara untuk urusan geser menggeser pergelaran alutsista pasti yang lebih cepat adalah TNI AU. Dalam hitungan jam jet tempur atau pesawat angkut sudah berada di lokasi yang diinginkan. Pada tahun 2017 nanti bisa dipastikan semua pengiriman jet tempur F16 sudah sampai di tanah air. Demikian juga jet Golden Eagle sudah diinstal radar tempur dan rudal sehingga ada tambahan kekuatan 30 jet tempur yang ready for use.  
Uji tembak MLRS ASTROS di Pantai Kebumen, Jawa Tengah
Dengan begitu maka jumlah kekuatan Sukhoi ada 16 unit, F16 ada 33 unit, Golden Eagle ada 15 unit, F5E ada 8 unit, Hawk ada 30 unit, Super Tucano ada 15 unit.  Dengan asumsi tidak mengikutsertakan jet tempur F5E dan pesawat coin Super Tucano maka sebaran jet tempur masih cukup memadai untuk patroli wilayah perbatasan. Alokasi persebaran yang paling pantas adalah menggeser 1 flight jet tempur.

Menarik untuk diperhatikan adalah permintaan gubernur NTT baru-baru ini agar di Kupang disediakan penempatan sejumlah jet tempur secara permanen untuk mengawal perbatasan. Prediksi kita secara kuantitas permintaan itu bisa dipenuhi mulai tahun 2017. Misalnya menempatkan 1 flight F16 (4 unit) di Kupang secara permanen lewat pola ganti shift. Jadi skuadron F16 Madiun yang menjadi home basenya bisa mengirim 1 flight kesana secara bergantian. Tak kalah penting mengisi Biak AFB dengan jet tempur Golden Eagle yang juga bermarkas di Madiun.  Jadi bisa diurai, tak menumpuk di Madiun.

Sementara skuadron jet tempur Hawk di Pekanbaru secara rutin mengirim 3-4 jet tempurnya ke Aceh dan bermalam disana, bergantian sepanjang tahun.  Bisa diselingi dengan F16 yang juga bermarkas di Pekanbaru, meski kita meyakini skuadron F16 Pekanbaru berkonsentrasi penuh menjaga Natuna.  Yang jelas di Natuna harus ada secara permanen minimal 1 flight jet tempur minimal F16.  Demikan juga dengan Tarakan, skuadron Supadio harus rajin mengirim sejumlah Hawknya secara rutin, sepanjang tahun kesana. Meski tidak harus setiap hari menggeber mesinnya, yang penting siaga di apron Juata AFB.
Uji coba embarkasi debarkasi Tank Leopard di KRI Teluk Bintuni
Lalu bagaimana dengan Sukhoi.  Karena ini masalah patroli rutin sepanjang tahun di kawasan perbatasan, biarlah yang menjaga jet tempur F16, Hawk dan Golden Eagle, lebih efisien dari semua sisi. Jadi jet tempur kelas berat Sukhoi siaga di home basenya, sesekali melaksanakan patroli insidentil melalui pola-pola acak dan tak terduga di berbagai kawasan perbatasan.

Bagaimana dengan alutsista darat dan marinir yang banyak menumpuk di Jawa. Hampir seluruh alutsista yang baru dibeli ditempatkan di batalyon-batalyon yang ada di Jawa sehingga boleh di kata pulau Jawa jadi gudang arsenal TNI.  Sangat bagus jika ada pola teratur mengirim secara berkala alutsista-alutsista terkini itu ke beberapa daerah misalnya Aceh, Medan, Batam, Balipapan, Jayapura, Kupang. Misalnya alutsista MLRS Astros diangkut ke Jayapura, lalu melakukan uji tembak disana, kemudian dipamerkan di berbagai even nasional lalu kembali ke Jawa. Dampaknya pasti menggetarkan.

Demikan juga melakukan simulasi mengangkut 10-12 tank Leopard dengan kapal angkut tank khusus ke Kalimantan lalu lakukan manuver dan uji tempur di medan Kalbar, pamerkan kepada rakyat disana, biarkan selama satu dua bulan lalu angkut lagi ke Jawa. Ini sangat mungkin dilakukan jika mengalokasikan secara permanen melalui penempatan di batalyon kavaleri Kalimantan masih “berat hati”.

Pola-pola seperti ini perlu diperlihatkan pada rakyat daerah. Misalnya mengangkut lewat laut sejumlah tank BMP 3F, RM Grad, Caesar Nexter, Leopard ke Aceh. Adakan simulasi latihan tempur disana.  Lalu pulangnya lewat jalur darat lintas Banda Aceh_Medan baru kemudian diangkut lagi ke Jawa lewat laut. Konvoi alutsista lewat darat ini akan memberikan dampak kewibawaan pada kehebatan kekuatan TNI di mata rakyat. Ini penting diperlihatkan.

Republik ini sangat luas, maka pemenuhan kebutuhan alutsista khususnya matra udara dan laut sangat mendesak meski sudah banyak alutsista yang berdatangan. Ancaman teritori sudah sedemikian nyata, jangan sampai salah prediksi, kita tak punya musuh, kita bersahabat dengan semua negara.  Bukankah Panglima TNI sudah mengisyaratkan bahwa perang masa depan adalah perebutan sumber daya alam dan energi.  Natuna itu sumber energi, Ambalat itu sumber energi, Arafuru itu sumber energi dan semua sumber energi masa depan ada di laut.

Maka untuk menjamin kewibawaan teritori  di wilayah laut itu, tempatkanlah alutsista strategis disana secara permanen, bukan didatangkan melulu dari Jawa. Secara logika tak ada negara lain yang mau menyerang Jawa. Mereka cenderung akan mengambil alih wilayah sumber energi.  Contohnya Laut Cina Selatan. Sudah saatnya kita mengurai tumpukan alutsista dan prajurit tidak terpusat di Jawa. Perlu membangunkembangkan pangkalan militer baru seperti Natuna, Saumlaki dan Kupang.

Ini tentu butuh persiapan. Tetapi dengan menempatkan atau menggeser alutsista-alutsista gahar itu secara shift dan memperlihatkannya secara langsung pada rakyat di daerah dan perbatasan, setidaknya akan memberikan rasa nasionalisme pada warga daerah. Tetapi lebih penting dari itu adalah kehadiran militer dan alutsista gahar di perbatasan secara terus sepanjang tahun akan memperkecil ruang intervensi dan klaim pihak lain.  Percayalah.
****
Jagarin Pane / 15 Agustus 2016

“Kado Ultah HUT Kemerdekaan RI Ke 71”

Saturday, July 30, 2016

Menunggu Changbogo

Armada striking force bawah laut Indonesia sedang bersiap-siap menunggu kedatangan kapal selam canggih buatan Korea Selatan, Changbogo. Akhir tahun ini atau awal tahun depan satu dari tiga kapal selam yang dipesan sudah dapat dioperasionalkan oleh korps Hiu Kencana. Kedatangan kapal selam Changbogo itu nantinya sekaligus memecahkan rekor jumlah kapal selam Indonesia yang selama hampir setengah abad hanya berjumlah dua biji tok.

Iya, sebuah negara kepulauan tropis terbesar di dunia selama puluhan tahun memunggungi lautnya.  Sehingga nelayan asing pesta pora mengambil ikan dan bahkan mungkin ikut memetakan data intelijen bawah laut.  Sekarang baru siuman dan sadar dari kebodohannya.  Kemudian bangun melalui srikandi Pangandaran “Angelina Jolie” Susi Puji Astuti menangkap dan menenggelamkan puluhan kapal nelayan asing.

Indonesia sedang membenahi manajemen kelautannya termasuk memperkuat barisan keamanan dan pertahanan laut. Untuk keamanan laut sudah dibentuk Bakamla (Badan Keamanan Laut) yang sedang dibesarkan dengan puluhan kapal penjaga pantai Coast Guard. Dalam lima tahun ke depan setidaknya sudah tersedia 30-35 kapal penjaga pantai.  Itu sebabnya industri galangan kapal swasta nasional kita saat ini sedang bergembira ria dengan panen order buat kapal-kapal Bakamla termasuk juga dari berbagai institusi yang beroperasi di bidang kelautan seperti Bea Cukai, Polisi Air, Kemenhub.
KRI Nanggala 402, sudah dimodernisasi di Korsel
Dengan adanya Bakamla tugas TNI AL diringankan karena ada sinergi alias bagi-bagi tenaga untuk menjaga keamanan laut.  Itu sebabnya armada kapal perang Indonesia yang berstatus KRI jumlahnya tidak akan beranjak dari 160-165 unit.  Jumlah itu dianggap memadai dan seluruhnya sedang dan akan dimodernisasi melalui empowering dan pergantian kapal perang.  TNI AL akan fokus pada apa yang disebut “gugus tempur laut” meski tetap mengawal “gugus keamanan laut” bersama kapal-kapal Bakamla.

Nah untuk kekuatan armada kapal selam kita yang jumlahnya “selalu dua” selama puluhan tahun, sangat memalukan jika tidak ditambah. Untunglah kita masih punya rasa malu. Ingat dengan sejarah Trikora, ketika kita punya kapal selam “Whiskey Class” sampai 12 biji si Belanda mulai berhitung ulang.  Kekuatan penggentar bawah laut Indonesia adalah salah satu faktor penentu hengkangnya kolonialisme Belanda di Papua tahun 1963. Tolong catat itu.

Dengan perjuangan panjang, saling sikut dan penuh tikungan maut, selama hampir delapan tahun mencla mencle, akhirnya pemerintahan SBY pada akhir Desember 2011 menandatangani kerjasama pengadaan kapal selam dengan Korsel melalui mekanisme transfer teknologi.  Kita pesan tiga biji, yang dua dibuat di Korsel dan yang satu terakhir dibuat di PAL Surabaya.  Nilai kontrak ketiganya US $ 1,1 milyar.

Ketiga kapal selam ini diprediksi akan bernama KRI Nagabanda 403, KRI Trisula 404 dan KRI Nagarangsang 405.  Tentu kehadiran ketiga kapal selam canggih ini seperti melepas beban sesak nafas selama ini bagi korps Hiu Kencana yang hanya punya dua kapal selam tua berusia hampir 40 tahun.  Lebih dari itu setidaknya ada rasa percaya diri untuk memastikan ruang bawah laut kita ada dalam kontrol pengawasan Hiu Kencana.

Tentu kita berharap serial Changbogo tidak berhenti sampai bilangan nominal tiga.  Sebagaimana harapan Hiu Kencana yang mottonya “Tabah Sampai Akhir”, jumlah kekuatan kapal selam Indonesia yang harus dicukupi ada di angka 12-14 kapal selam untuk menjaga 3 ALKI yang strategis.  Dengan model transfer teknologi dimana kapal selam ketiga dan seterusnya sudah bisa dibuat oleh para insinyur Indonesia di PT PAL dengan supervisi Korsel tentu ini sangat membanggakan.  Jangan sampai niat yang sudah bagus ini kemudian dipatahkan oleh inkonsistensi pengambil kebijakan, lalu memesan kapal selam jenis lain.

Persoalan di hampir semua model pengambil kebijakan kita adalah ganti pejabat ganti selera. Proyek Changbogo ini sangat membanggakan jika nantinya kita sudah bisa buat kapal selam sendiri.  Sama dengan proyek kapal perang yang dikenal dengan PKR 10514 kerjasama Belanda dan PAL, sampai pembuatan kapal perang kedua semua berjalan bagus. Tapi ilmu yang didapat dari pembuatan 2 PKR 10514 itu seakan ingin dimentahkan dengan program inkonsistensi itu.  Padahal Belanda menyediakan opsi membuat sampai 20 unit kapal perang modern kita.

Proyek PKR 10514, Jet tempur IFX dan Changbogo adalah kebanggaan kita sebagai bangsa karena dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan kita sudah menguasai teknologi industri pertahanan strategis. Jangan sampai kebanggaan sebagai bangsa besar dikalahkan oleh naluri makelar demi “bank saku”.  Semua proyek alutsista model transfer teknologi itu sudah ada pada jalan yang benar.  Changbogo sedang kita tunggu dan semoga jumlahnya tidak berakhir di nominal tiga tetapi akan berlanjut sampai tiga belas atau empat belas.  Semua demi kehebatan bangsaku, bukan “bank saku”.
****

Jagarin Pane/30 Juli 2016

Monday, July 25, 2016

Prediksi Belanja Militer RI Sampai Tahun 2019

Indonesia terus berupaya memperkuat militernya dengan belanja alutsista secara intens. Program eksisting saat ini adalah membangun pangkalan militer segala matra di Natuna dengan APBN_P tahun 2016 sebesar 1,2 Trilyun untuk menjadikan Natuna sebagai salah satu sarang lebah militer kita. Sebaran alutsista di Natuna sampai saat ini berupa pergeseran 1 flight jet tempur F16, pertahanan pangkalan Oerlikon Skyshield, radar Weibel yang mobile, sejumlah kapal perang striking force, drone dan pesawat patroli maritim.

Program pengadaan alutsista yang sedang berlangsung saat ini adalah pembuatan 2 kapal perang PKR 10514 produksi bersama Belanda_PT PAL di Surabaya, dimana salah satunya yaitu KRI Martadinata 331 sedang menjalani sea trial di laut Jawa. Kemudian pembuatan kapal latih pengganti Dewaruci di Spanyol, pembuatan 3 kapal selam jenis Changbogo di Korsel, salah satunya juga sedang menjalani sea trial di Korsel.  Juga sedang berlangsung pembuatan 2 kapal LST angkut tank spesialis Leopard di Jakarta dan Lampung untuk menemani KRI Teluk Bintuni 520 yang duluan selesai. Tahun depan juga akan dibangun 1 kapal perang jenis LPD untuk menambah jumlah LPD Makassar Class yang berjumlah 4 unit.
Jet Tempur Sukhoi SU30 bersiap patroli tengah malam
Kita juga sedang menunggu kedatangan 15 unit jet tempur F16 blok 52Id dari AS. Mestinya seluruh 24 unit jet tempur F16 up grade yang dibeli lewat program FMS tahun 2012 itu sudah tiba seluruhnya akhir bulan Juni 2016. Kita juga sedang menunggu kedatangan sang primadona Main Battle Tank Leopard RI dari Jerman dan berbagai alutsista pesanan pemerintah SBY. Tidak ketinggalan sedang diprogramkan untuk 15 jet T-50 golden eagle berupa pemasangan instalasi radar dan rudal sehingga bisa bisa berfungsi sebagai jet tempur disamping sebagai trainer.
Nah diluar paket eksisting itu militer Indonesia kembali melanjutkan rancangan belanja alutsista untuk tiga tahun ke depan (2017-2019). Dari data yang dikeluarkan Bappenas terhimpun jumlah dana yang digelontorkan untuk pembelian aneka ragam alutsista sebesar US$ 7,6 milyar dibagi untuk tiga matra. TNI AD mendapat alokasi anggaran sebesar US$ 1,5 milyar, TNI AL sebesar US$ 3,3 Milyar dan TNI AU sebesar US$ 2,8 Milyar.

TNI AU hampir pasti membeli 10 unit jet tempur Sukhoi SU35, 3 unit pesawat amfibi, pesawat angkut ukuran besar, helikopter angkut berat, sejumlah radar dan sistem pertahanan rudal jarak sedang untuk ibukota. Khusus untuk pengadaan rudal surface to air jarak sedang ini merupakan hal baru karena Indonesia selama ini hanya bertumpu pada Hanud Titik alias rudal jarak pendek. Jakarta sangat pantas mendapatkan pengawalan Hanud Area dengan memasang sejumlah peluru kendali darat ke udara jarak menengah.

TNI AL melanjutkan program pengadaan kapal perang dan alutsista striking force.  Prediksi kita akan ada pembelian 3 kapal perang jenis fregat, 2 kapal selam “herder” selain Changbogo, 2 kapal penyapu ranjau, 4 Kapal Cepat Rudal 60m, 60 tank amfibi, sejumlah rudal dan torpedo. Sementara TNI AD juga memperkuat taring tempurnya dengan membeli sejumlah heli serbu, heli angkut berat, rudal, artileri, tank, panser dan kendaraan tempur IFV.
Fregat KRI Satsuit Tubun 356 sedang bertugas
Tentu anggaran belanja beli alutsista itu menggembirakan kita meski belum memuaskan. Namun setidaknya ada gambaran jelas program pengadaan alutsista untuk memenuhi program MEF jilid 2 yang sedang berlangsung.  Ancaman dan tantangan menjaga teritori sudah jelas di depan mata. Paling tidak ada 2 hot spot yang selalu diwaspadai dan dijaga ketat yaitu Ambalat dan Natuna. Meski beberapa hot spot lain seperti selat Malaka dan Kupang juga perlu dicermati.

Kita meyakini dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin bagus, belanja pertahanan kita juga ikut terangkut bagus apalagi jika formula anggarannya berbasis PDB. Membangun kekuatan pertahanan dengan pola investasi tentu bisa merubah cara pandang kita selama ini. Bahwa patron bernegara dan berbangsa itu “biaya eksistensinya” adalah memperkuat otot militer dan persenjataannya. 

Jadi jangan ada anggapan bahwa perkuatan militer itu buang-buang uang negara. Perkuatan militer adalah sejalan dengan perjalanan berbangsa dan bernegara menuju negara kesejahteraan yang berkeadilan.  Perkuatan militer adalah kebutuhan mutlak agar eksistensi bernegara, eksistensi berteritori dan eksistensi berdiplomasi tidak dianggap remeh oleh negara lain. Dengan kata lain membangun dan memperkuat hulubalang republik adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya dirasakan sepanjang usia eksistensi bernegara dan berbangsa.

Belanja investasi pertahanan yang bernama alutsista harus terus diperbesar dan sangat pantas berbasis PDB. Ini dilakukan untuk memperoleh kekuatan pertahanan dan daya tahan terhadap gertakan dan gempuran teritori yang sudah mulai dicoba uji nyalinya di Natuna.  Kita perkuat militer kita, kita baguskan model diplomasi kita.  Tapi jangan lupa sebagus dan sehebat apapun model diplomasi yang dijalankan, dia harus dikawal dengan kekuatan militer yang disegani.  Kita sedang menuju ke arah itu.
****
Jagarin Pane/24 Juli 2016